Press ESC to close

Mengenal Kesenian Badud yang Dilestarikan Sejak Tahun 1880 Hingga Sekarang

  • October 27, 2018

DEJABAR.ID, PANGANDARAN-Hai para sahabat Dejabar.id di manapun berada, khususnya di Kabupaten Pangandaran, mari kita menguak sejarah tentang sejarah seni ritual dan budaya kolot ‘kesenian badud kuno’ yang merupakan salah satu tradisi budaya masyarakat Dusun Margajaya, Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.
Dalam perjalanan sejarah masyarakat setempat, kesenian badud merupakan budaya ngusir hama tanaman padi huma yang diciptakan oleh Aki Ardasim dan Aki Ijot pada tahun 1880 silam.
Menurut pawang Badud, Sule (63) yang juga cucu dari Aki Ardasim mengungkapkan selain untuk mengusir hama, kesenian badud merupakan kesenian yang sakral sebagai ritual puji syukur terhadap limpahan nikmat yang telah dirasakan oleh masyarakat, dan mempunyai makna filosofi yang tinggi dalam pertunjukannya.
“Kesenian ini mempertunjukan teatrikal adegan masyarakat yang sedang bertani juga mempertunjukan adegan pengusiran kepada binatang yang kerap mengganggu tanaman padi dibarengi dengan suara tabuhan dogdog dan angklung,” ungkapnya kepada Dejabar.id saat ditemui di Padepokan Kampung Badud, Sabtu (27/10/2018).
Sule menambahkan, kesenian yang dahulunya sering diadakan pagelaran seni pada saat musim penebangan pohon atau menanam benih pada satu lobang dengan iringan bacaan mantra dan doa agar di berikan kelancaran.
“Selain ronggeng gunung, kesenian badud yang hanya ada di Desa Margacinta ini menjadi salahsatu kesenian tradisional ciri khas Kabupaten Pangandaran,” katanya.
Namun, lanjut Sule, kini dalam kesenian badud sudah ada beberapa adegan dan penyuguhan yang dimodifikasi dikalaborasikan dengan alat kesenian modern dalam tabuhan iringan seni badud karena menyesuaikan dengan keadaan kondisi jaman.
“Seperti ada beberapa kostum hewan yang di kenakan pementas seperti kostum babi hutan, orang hutan, monyet serta harimau. Pemeran binatang itu akan di rasuki oleh mahluk gaib dan saya sebagai pawang selalu mendampinginya,” papar Sule.
Sule mengatakan kesenian badud ini sempat punah  beberapa tahun lalu, karena masyarakat sekarang lebih memilih ke hiburan yang lebih modern.
“Dulu pernah punah, tetapi setelah di lakukan revitalisasi dari Provinsi pada tahun 2012 lalu dan kini kesenian badud mulai aktip kembali,”akunya.
“Sejak tahun 2012 hingga sekarang kesenian badud sering tampil diluar daerah Kabupaten Pangandaran, seperti di hari jadi kabupaten sukabumi sebanyak 5 kali tampil. Gedung Sate Bandung tiga kali, di Kabupaten Garut sebanyak dua kali tampil dan Kabupaten Tasikmalaya satu kali tampil,” kisah Sule.
Sementara itu, Kepala Desa Margacinta,  Edi Supriadi, menambahkan kesenian badud dulunya kerap tampil dalam hajatan warga setempat seperti kawinan maupun sunatan.
“Alhamdulillah, guna  mempertahankan pelestarian kesenian badud, kini ada 3 kelompok kesenian badud yang di antaranya para orang tua dan generasi penerusnya pada anak-anak Sekolah Dasar Negri 1 dan 2 Margacinta,” singkatnya.(dry)
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *