DEJABAR.ID, CIREBON-Kompleks Taman Air Gua Sunyaragi merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Islam Cirebon, yang kini dijadikan sebagai cagar budaya dan objek wisata. Dulunya, tempat ini dijadikan oleh para keluarga Keraton untuk bertafakur dan menyucikan diri di dalam gua-gua buatan yang terbuat dari batu karang di laut selatan Jawa. Salah satunya adalah Gua Peteng.
Gua Peteng yang terletak di Kompleks Taman Air Gua Sunyaragi, merupakan salah satu gua yang cukup dikenal bagi masyarakat Cirebon. Gua Peteng sendiri berasal dari bahasa Cirebon, yakni peteng yang berarti gelap.
Menurut Pemerhati Budaya dan Sejarah Cirebon sekaligus pengelola Gua Sunyaragi, Jajat Sudrajat, Gua Peteng digunakan oleh keluarga Keraton pada zaman dulu untuk menyucikan diri. Dalam Bahasa Cirebon sendiri, nama asli Gua Sunyaragi adalah ‘taman kaputren panyepi ing raga’, yang berarti taman keluarga Keraton untuk menyucikan diri.
“Penyepi ing raga di sini adalah kearifan lokal untuk menghapus kata ‘bertapa’, karena bertapa berasal dari Hindu, meskipun wujudnya sama, yaitu menyucikan diri dari dunia ramai,” jelasnya saat ditemui Dejabar.id di Komplek Gua Sunyaragi, Jalan Brigjen Dharsono (By Pass) Kota Cirebon, Jumat (18/1/2019).
Jajat melanjutkan, Gua Peteng adalah simbol, mampu tidak manusia keluar dari kegelapan. Makna gelap ini banyak, yakni gelap pikiran, gelap hati, dan lain-lain. Sehingga, Gua Peteng difungsikan sebagai tempat untuk bertafakur agar bisa menyucikan diri dari kegelapan. Menghadapnya pun dari arah barat ke timur, karena mengikuti arah kiblat.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, di dalam Gua Peteng terdapat sebuah sumur. Namun menurut Jajat, itu bukanlah sumur, melainkan bak atau kubangan tempat penampungan air, yang digunakan orang yang sedang bertafakur di situ untuk melakukan wudhu.
“Jadi, ketika sedang melaksanakan ritual itu harus punya wudhu. Ketika batal, jadi dia tidak perlu jauh-jauh, karena bisa wudhu di kubangan itu,” jelasnya.
Selain sebagai tempat untuk berwudhu, lanjut Jajat, penampungan air tersebut juga berfungsi sebagai pendingin ruangan. Dulunya, Gua Sunyaragi merupakan water castle atau istana air yang berada di tengah-tengah danau. Sehingga, di tempat ini dulunya sangat indah dengan gemericik air yang mengalir melalui sela-sela bebatuan karang Gua Sunyaragi. Air-air tersebut pun masuk ke dalam Gua Peteng.
Sama seperti tempat lain di Gua Sunyaragi, lanjut Jajat, semua gua ataupun bangunan lainnya tidak dibangun secara asal-asalan. Masing-masing mempunyai filosofi tersendiri terkait kehidupan.
“Gua Peteng adalah salah satu dari filosofi kehidupan tersebut,” pungkasnya.(Jfr)
Leave a Reply