Press ESC to close

Mengenal Tradisi Menyalakan Lilin di Malam Perayaan Imlek

  • February 5, 2019

DEJABAR.ID, CIREBON – Sebuah keluarga keturunan Tionghoa yang terdiri dari suami istri dan satu anak lelaki, tampak mencari nama-nama mereka di deretan lilin berwarna merah berbagai ukuran. Sebagian ada yang sudah menyala apinya, sebagian lagi belum. Setelah menemukan yang lilin dicari, keluarga tersebut menyalakan lilin yang tingginya hampir seukuran orang dewasa.
Dengan dipandu petugas vihara, keluarga tersebut menyalakan dua lilin besar tersebut dengan bantuan lilin kecil. Sang suami dan anak mereka menyalakan lilinnya masing-masing. Sedangkan sang istri membantu mereka. Sesekali dia memotret aktivitas dua orang tersebut dengan ponselnya. Tidak butuh waktu lama, lilin besar tersebut pun menyala, dan memancarkan api yang cukup hangat.
Ternyata bukan hanya keluarga itu saja yang menyalakan lilin, ada juga keluarga lain yang menyalakan lilin-lilin berbagai ukuran yang dipasang di pelataran Vihara Dewi Welas Asih, Jalan Kantor Kota Cirebon, Senin (4/2/2019) malam. Sehingga, beberapa lilin yang tadinya mati, mulai menyala, membuat spot foto yang menarik.
Dalam tradisi perayaan malam Tahun Baru Imlek di Vihara Dewi Welas Asih, para warga etnis Tionghoa berbondong-bondong menuju Vihara. Pertama-tama, mereka menyala lilin yang sudah mereka pesan jauh-jauh hari, ataupun ada yang on the spot memesan lilin di Vihara, untuk kemudian dinyalakan. Setelah itu, mereka pun berdoa di meja altar dan memberi penghormatan kepada Kongco dan Rupang di dalam Vihara.
Menurut Ketua Panitia Imlek dan Cap Go Meh Vihara Dewi Welas Asih, Iwan Santoro, menyalakan lilin tersebut memiliki makna tersendiri bagi warga etnis Tionghoa. Lilin-lilin tersebut mempunyai makna agar di tahun baru nanti, jalan hidup mereka bisa diterangi oleh cahaya, seperti lilin yang menerangi malam hari.
“Kita juga berdoa semoga dengan menyalakan lilin ini bisa mendatangkan kemakmuran,” jelasnya saat ditemui Dejabar.id di Vihara, Senin (2/2/2019) malam.
Jika dilihat, lilin-lilin yang berjumlah ratusan tersebut dijejer dari yang terkecil di dekat pintu masuk pelataran Vihara, hingga yang paling besar dan tinggi di dekat pintu masuk Vihara. Menurut Iwan, perbedaan ukuran itu mempunyai maknanya. Semakin besar lilinnya, maka akan semakin besar dan terang. Sehingga kemakmurannya akan semakin besar yang datang.
Biasanya, ada satu keluarga yang hanya membeli satu lilin saja. Tapi, ada juga yang membeli satu orang satu lilin. Seperti keluarga yang tadi, mereka membeli dua buah lilin besar, dari keluarga yang hanya berjumlah tiga orang.
Iwan menuturkan, lilin-lilin ini memiliki ukuran kati, atau ukuran standar yang biasa digunakan warga Tionghoa untuk sebuah lilin. Nilai satu kati hampir sama dengan satu kilogram. Untuk yang paling kecil ada yang 20 kati, dan yang paling besar dan raksasa ukuran 2000 kati.
“Per katinya dihargai Rp15 ribu. Jadi, 20 kati dihargai Rp300 ribu. Sedangkan yang paling besar, 2000 kati dihargai Rp45 juta,” tuturnya.
Lilin-lilin ini, lanjutnya, merupakan sumbangsih dari beberapa donatur, ada yang buatan sendiri, dan ada juga yang didatangkan dari Semarang. Nantinya, lilin-lilin ini akan dibiarkan menyala hingga menjelang perayaan Cap Go Meh atau penutupan perayaan Imlek pada 19 Februari 2019 nanti.
“Jadi, mulai malam ini hingga nanti pas Cap Go Meh, lilinnya dibiarkan menyala sebagi tanda kemakmuran,” pungkasnya.(Jfr)
 
 
 
 
 
 
 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *