DEJABAR.ID, CIREBON – Wilayah Cirebon merupakan salah satu pusat penyebaran agama Islam pada masa Wali Sanga. Karena itu, banyak ditemukan masjid-masjid tua di wilayah Cirebon. Bahkan, ada masjid tertua yang usianya bahkan melebihi Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang terletak di Alun-alun Kesepuhan, yakni Masjid Pejlagrahan.
Masjid Pejlagrahan sendiri terletak tidak jauh dari lokasi Keraton Kesepuhan dan Masjid Agung Sang Cipta Rasa, tepatnya berada di Jalan Mayor Sastraatmaja Kelurahan Kasepuhan, Lemahwungkuk, Kota Cirebon. Di masjid inilah, para wali berkumpul untuk merencanakan pembangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa.
Untuk menuju ke masjid ini, harus melalui gang kecil. Jika dilihat dari luar, bangunan masjid ini tampak tidak seperti masjid-masjid tua di Jawa pada umumnya. Hal tersebut dikarenakan masjid ini mengalami beberapa kali renovasi, seperti penambahan bangunan baru agar masjid ini bisa menampung lebih banyak jamaah. Serta di dindingnya diberi keramik. Ukurannya pun cukup kecil, tidak sebesar Masjid Agung Sang Cipta Rasa.
Menurut pengurus Masjid Pejlagrahan, Asep Syarifudin, penambahan keramik tersebut dilakukan karena tembok-temboknya mulai lapuk. Sehingga, diberi keramik agar temboknya tetap kokoh. Meskipun begitu, bentuk asli bangunan ini tetap dijaga. Beberapa yang masih tersisa seperti mimbarnya yang khas dan terbuat dari kayu jati, pintu kecil masjid, serta tiang-tiang atau saka dan ukirannya. Kemudian, ada naskah kuno yang bertuliskan huruf Arab, namun berbahasa Jawa, yang dipajang di salah satu tiang saka.
Asep menceritakan, Masjid Pejlagrahan dibangun oleh Pangeran Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana atau Mbah Kuwu Cirebon, pada tahun 1415, yakni 65 tahun sebelum Masjid Agung Sang Cipta Rasa berdiri. Nama Pejlagrahan sendiri berarti peristirahatan atau persinggahan, karena di sinilah dulunya dijadikan sebagai tempat peristirahatan bagi orang-orang asing yang datang. Karena dulunya, wilayah Kesepuhan merupakan wilayah pesisir pantai. Para Wali pun menjadikan masjid ini sebagai tempat berkumpul untuk perencanaan pembangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa.
“Dulunya sekitar masjid ini masih alang-alang dan dekat laut. Bahkan Keraton Kesepuhan masih belum ada,” jelasnya saat ditemui Dejabar.id di Masjid Pejlagrahan, Senin (13/5/2019).
Asep melanjutkan, bangunan asli Masjid Pejlagrahan berukuran 8×6 meter yang terletak di bagian dalam. Masjid ini awalnya memiliki 3 buah pintu, yakni pintu utama dan 2 pintu kiri dan kanan. Ukuran tinggi ketiga pintu tersebut sama seperti yang ada di Masjid Agung Sang Cipta Rasa, yakni sekitar dada orang dewasa. Sehingga, jika mau masuk ke masjid, harus menundukkan kepalanya, yang merupakan simbol penghormatan kepada masjid.
“Tapi sekarang satu pintu yang ada di kanan ditutup. Jadi tinggal dua pintu saja,” jelasnya.
Demi menjaga bangunan masjid tetap berdiri, maka masjid ini mengalami beberapa renovasi. Yang terakhir dilakukan pada tahun 1995, dan diresmikan oleh Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Cirebon, Kumaedhi Syafrudin.
“Kini, masjid ini kerap digunakan hanya untuk solat 5 waktu, solat Tarawih, dan solat hari raya. Sedangkan untuk salat Jumat masih mengikuti ke Masjid Agung Sang Cipta Rasa,” pungkasnya.(Jfr)
Leave a Reply