Mengintip Suasana Tradisi Halalbihalal dan Pisowanan di Keraton Kanoman Cirebon


DEJABAR.ID, CIREBON – Suasana lebaran identik dengan tradisi halalbihalal yang ada di Indonesia, termasuk di Keraton Kanoman Cirebon. Di sini, prosesi halal-bihalal dan pisowanan atau sungkeman merupakan tradisi yang berlangsung setiap tahun, yang biasanya jatuh pada tanggal 4 atau 5 Syawal di Bangsal Jinem Keraton Kanoman.
Menurut Juru Bicara Keraton Kanoman Cirebon, Raja Ratu Arimbi Nurtina, pada dasarnya prosesi halalbihalal dan pisowanan ini merupakan upaya untuk menjalin dan merajut tali persaudaraan antara keluarga Keraton Kanoman, abdi dalem, margesari, dan seluruh lapisan masyarakat adat yang tersebar di berbagai wilayah, khususnya di Cirebon.
“Kita mengundang saudara-saudara kita yang dari jauh seperti dari Sumedang, Banten, dan wilayah lainnya yang tersebar di Indonesia,” jelasnya, Minggu (9/6/2019).
Ratu Arimbi melanjutkan, prosesi ini diawali dengan pembukaan dengan membaca basmalah bersama-sama. Lalu dilanjutkan dengan pembacaan doa dan tawasul yang dihadiahkan untuk para arwah leluhur Keraton Kanoman. Setelah itu, dilanjutkan dengan sambutan dari Sultan Raja Muhammad Emirudin, Sultan Kanoman XII, guna menyapa dan menyampaikan rasa syukur dan ucapan terima kasih atas kehadiran para tamu hadirin sekalian.
Acara kemudian dilanjutkan dengan bersalaman secara berbaris sambil melakukan sungkeman kepada Sultan Raja Muhammad Emirudin dan Ratu Dalem Hj. Sri Mulya, beserta para sesepuh dan keluarga Keraton Kanoman yang lain.
“Prosesi halal-bihalal dan pisowanan ini memiliki arti penting untuk saling memaafkan kesalahan antar sesama, dan memperkuat ukhuwah antar keluarga Keraton, serta menjalin ukhuwah basyariyah atau persaudaraan antar sesama manusia,” pungkasnya.(Jfr)