DEJABAR.ID, JAKARTA BARAT – Dalam mengisi hari kemerdekaan RI, GP ansor Cabang Jakarta Barat bersama perkumpulan Sepakbola Uni Papua FC mengadakan coaching clinic untuk memulihkan trauma terhadap anak-anak pengungsi dari Afganistan dan Somalia di Jl.Bedugul, Kalideres, Jakarta Barat, Senin (19/8/2019.
Dalam memulihkan trauma tersebut para relawan serta pelatih dari Uni Ppaua FC dan GP Ansor turun ke lapangan mengajak anak-anak pengungsi bermain sepakbola.
Sekitar 100 anak mulai dari usia 6-13 tahun yang bermukim di suku dinas sosial Jakarta Barat itu tampak terlihat sangat antusias mengikuti permainan sepakbola. Raikha, (6 Tahun), salah satu anak asal Afganistan yang mengikuti coaching clinic itu mengaku merasa bahagia.
Selama hampir tiga bulan berada dipengungsian ia mengaku baru pertama kali dirinya diajak untuk bermain bola. “Terimakasih. Senang,” tutur Raikha dengan Bahasa Indonesia terbata-bata.
Kegembiraan anak-anak tentu saja merangsang para relawan untuk berbagi pengalaman. Frans, salah satu anggota Uni Papua ikut terlibat mengajari anak-anak yang bernasib kurang baik ini.
Frans, Pemuda Papua yang telah bergabung dengan Perkumpulan Sepakbola Sosial Uni Papua FC ini melatih anak-anak untuk menendang dan mengocek bola. Menurut Frans, dengan sepakbola mereka akan bahagia.
“Namanya anak-anak mereka senang dengan sepakbola,” ungkap Frans.
Tidak hanya mengajak anak-anak bermain sepakbola, para relawan juga membagikan makanan dan vitamin C, susu serta minuman. Uni Papua FC juga menyerahkan bantuan bola dari One World Play Project.
Koordinator GP Ansor Jakarta Barat AlFanny menyebut tema sepakbola ini adalah Sepakbola Merah Putih. Sebagai warga negara Indonesia tentunya harus memupuk rasa solidaritas dan kemanusiaan.
“Kita tahu anak-anak pengungsi ini adalah butuh pertolongan kita. Dan sesama manusia kita harus peduli tanpa melihat latar belakangnya,” erang AlFanny.
AlFanny menjelaskan, ingin memberikan pendidikan informal untuk anak-anak pengungsi ini berupa bimbingan singkat setidaknya dalam seminggu sekali.
“Adalah hak anak-anak untuk mendapatkan pendidikan ini. Dan masalah pengungsi ini adalah masalah kemanusiaan, meskipun bukan warga Indonesia,” papar AlFanny.
Sementara itu, Harry Widjaja, CEO Papua FC menambahkan kegiatan Sepakbola merah putih yang digelar ini sebagai aksi sosial yang diberikan kepada anak-anak pengungsi. Pihaknya juga peduli terhadap perkembangan mental anak-anak pengungsi.
“Semacam trauma healing, agar mental anak-anak ini sehat,” tandas Harry. (Tribunnews/red)
Leave a Reply