DEJABAR.ID, BOGOR – Penggunaan energi berbahan bakar batu bara saat ini menjadi salah satu sumber energi yang besar potensinya. Meskipun kerap menjadi polemik bagi lingkungan dari hasil pembakarannya, namun sumber energinya tetap dibutuhkan, seperti untuk pembangkit listrik. Namun sayangnya, batu bara diperkirakan akan habis pada tahun 2048. Sehingga, harganya akan semakin mahal ketika akan mendekati habis.
Karena itu, dibutuhkanlah sumber energi baru dan terbarukan (EBT) yang bisa dijadikan sebagai bahan bakar. Karena faktanya, energi fosil seperti batu bara akan cepat habis.
Menurut Kepala Balai Besar Teknologi konversi Energi (B2TKE), Balai Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Mohammad Mustafa Sarinanto, saat ini negara-negara maju sudah mulai menggunakan sumber energi terbarukan. Bentuknya bisa bermacam-macam, seperti panas bumi, surya, dan lain-lain.
Di Indonesia, lanjutnya, energi surya saat ini bisa menjawab kebutuhan energi terbarukan. Apalagi, wilayah Indonesia yang berada di jalur khatulistiwa, memiliki potensi cahaya matahari yang sangat besar. Namun sayangnya, alat untuk menciptakan energi surya menjadi energi listrik masih sangat mahal. Hal tersebut karena masih belum diproduksi secara massal.
“Belum diproduksi secara massal, sehingga menyebabkan alat tersebut menjadi sangat mahal,” jelasnya saat workshop di salah satu hotel di Kota Bogor, Rabu (19/6/2019).
Meskipun begitu, lanjutnya, kebutuhan energi surya ini bisa menjawab kebutuhan wilayah-wilayah yang ada di kepulauan, seperti di Indonesia. Sumber energi ini bisa sangat penting ketika pembangkit listrik yang biasa digunakan itu terjadi masalah.
“Seperti saat gempa di Palu. Pembangkit listrik di sana hancur. Maka dari itu, kita butuh variasi sumber energi yang lain agar pasokan energi tetap tercukupi,” jelasnya.
Untuk itu, lanjutnya, dampak lingkungan dari PLTU berbahan batu bara, adalah bagian dari perjalanan hidup revoulis industri. Mau tidak mau, orang-orang akan memanfaatkan itu. Tapi ke depan, jika bisa membangun energi yang lebih bersih, maka dianggap bisa memberikan pengurangan polusi dan udara yang bersih.
“Digalakkan EBT yang bersih energinya. Solusi yang paling tepat adalah kita siapkan mulai dari sekarang,” pungkasnya.(Jfr)
Leave a Reply