Press ESC to close

Tingkatkan Kebersamaan dan Toleransi Budaya Punguan Tampubolon se-Kota Bandung Gelar Pesta Partangiangan

  • May 27, 2019

DEJABAR.ID, BANDUNG- Sebagai kaum minoritas yang berada di tanah Pasundan, Punguan Batak  Tampubolon juga ikut dalam menjalankan amanah budaya dan agama.
Salah satunya dengan saling bertoleransi antar sesama suku dan agama semua dengan makna kedamaian dan ketentraman bisa terjaga.
Hal ini dikatakan oleh Poltak Tampubolon selaku salah satu anggota punguan Tampubolon dan sekaligus Ketua Pelaksana Partangiangan.
“Walaupun kita kaum minoritas kita harus menunjukan bahwa semua warga termasuk Kota Bandung  adalah sama. Suku dan agama memang berbeda tapi kita bisa merangkul dan berjabat tangan dalam Indonesia,” ujarnya kepada Reporter Dejabar saat ditemui di sela-sela acara partangiangan di Graha Emerald Cicadas, Minggu(26/5/2019).
Punguan Tampubolon merupakan punguan atau gabungan orang-orang batak yang dalam ikatannya adalah bersaudara. Orang-orang batak yang memiliki marga dan boru Tampubolon diharapkan bisa bergabung dalam punguan ini.
Punguan ini sudah berdiri selama 22 tahun di Kota Bandung. Banyak agenda kegiatan didalamnya. Salah satunya pesta punguan. Pesta punguan digunakan sebagai wadah bersilahturahmi antar sesama warga yang bermarga Tampubolon.
Poltak Tampubolon menjelaskan untuk menciptakan punguan yang maju dan berkembang dibutuhkan beberapa pengurus anggota. Untuk itu dalam pesta punguan yang dilakukan sekali empat tahun ini juga dilakukan pelantikan anggota kepengurusan dari yang lama menjadi yang baru.
“Kita juga melalukan serah terima jabatan dari anggota lama ke anggkta baru, anggota kepengurusannya diganti biar punguan ini lebih maju lagi dengan bibit batu,” lanjutnya.
Di samping itu, Poltak juga mengimbau khusus kepada anak muda yang berdarah Batak untuk tidak melupakan budayanya. Budanya sendiri merupakan harta yang telah diberikan dan dititipakan oleh nenek moyang.
Menurutnya banyak fenomena yang mengatakan anak muda yang tinggal di kota besar cenderung malu dengan budaya asalnya yaitu Batak. Bahkan keinginan untuk mengetahui silsilah marganya pun merasa enggan.
Hal ini yang terus dihimbau Poltak bersama rekan-rekannya untuk saling mendorong anak muda khususnya anak muda Tampubolon untuk turut ikut berpartisipasi menjalankan dan memegang teguh budayanya.
“Saya selalu menekankan kepada mereka (anak muda Tampubolon)  untuk tidak malu kepada budayanya, mencintai budayanya dan tetap melestarikannya,” tutupnya.(Eca)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *