Press ESC to close

Tommy, Salah Satu Sosok di Balik Keberhasilan Film Dokumenter 'Sexy Killers'

  • June 20, 2019

DEJABAR.ID, BOGOR – Menjelang Pilpres 2019, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan kemunculan film dokumenter Sexy Killers, yang menceritakan tentang polemik sumber energi batu bara. Film dokumenter tersebut menuai pro dan kontra di masyarakat.

Dejabar.id berkesempatan bertemu dengan salah satu orang yang terlibat langsung dalam pembuatan film berdurasi 1 jam 28 menit tersebut, yakni Tommy Apriando, selaku tim riset dan videografer dari film Sexy Killers. Dirinya menceritakan, kondisi pertambangan batu bara saat ini sudah mengubah banyak wajah dan masyarakat Indonesia.

Secara utuh, lanjutnya, konsep cerita dalam film ini adalah garapan dari Watchdoc. Film ini menampilkan berbagai dampak yang ditimbulkannya dari aktivitas pertambangan batu bara dari hulu ke hilir, salah satunya adalah dampak kesehatan pada masyarakat.

“Hulunya adalah aktivitas pertambangan, hilirnya adalah aktivitas PLTU,” jelasnya saat ditemui usai workshop di salah satu hotel di Kota Bogor, Rabu (19/6/2019).

Tommy menceritakan, di bagian hulu, tepatnya di Kalimantan Timur, ada dampak yang mengerikan bagi masyarakat. Salah satunya adalah meninggalnya 32 anak di lubang bekas galian tambang. Selain itu, kawasan yang tadinya pemukiman dan pesawahan, berubah menjadi pertambangan.

Akibatnya, banyak warga yang memilih untuk pergi dari tempat tersebut, ada juga yang memilih tetap bertahan, dengan segala konsekuensinya. Hal tersebut jelas menimbulkan berbagai polemik di masyarakat.

Sedangkan untuk di bagian hilir, ada PLTU yang menggunakan batu bara sebagai sumber energi untuk menghasilkan listrik. Adapun debu hasil sisa pembakaran terbit dibuang melalui cerobong asap. Hal tersebut membuat kondisi udara di sekitar area PLTU tak lagi bersih. Hal ini membuat masyarakat, petani, dan nelayan yang berada di sekitar PLTU semakin kesulitan.

Tommy mengakui, banyak yang terlibat dalam pembuatan film dokumenter Sexy Killers. Dan semua itu dilakukan secara kolaborasi, sehingga dirinya tidak hanya videografer saja. Tommy juga melakukan riset-riset terlebih dahulu beberapa tahun sebelumnya. Hal tersebut didukung juga dengan profesinya sebagai wartawan dari media nasional, yang juga membahas permasalahan tambang.

Tommy juga mengakui, film ini membuat beberapa temannya yang terlibat dalam pembuatan film mendapatkan intimidasi. Hanya saja, hal tersebut bukan dijadikan sebagai ketakutan, tapi dijadikan sebagai pijakan agar selalu waspada saja.

“Pastinya hampir semua jurnalis ada yang mendapat intimidasi. Tapi bagaimana kita menjadikan hal itu sebagai pijakan agar selalu waspada saja,” tuturnya.

Menurut Tommy, dari film Sexy Killers tersebut, berisi pesan yang mengajak masyarakat untuk tahu, bahwa energi yang digunakan yang didominasi oleh energi fosil, punya dampak besar terhadap kerusakan lingkungan. Sehingga, mendorong pemerintah intim saatnya menggunakan energi baru dan terbarukan (EBT).

Film ini, lanjutnya, diselesaikan bertepatan dengan momentum Pilpres 2019. Hal ini sangat pas, karena selama ini energi ini jarang dibicarakan oleh politisi. Sehingga, film ini menjadi perhatian masyarakat, baik sebelum Pilpres maupun pasca Pilpres.

“Film ini membuka mata masyarakat tentang apa yang terjadi selama ini dibalik aliran listrik yang selama ini digunakan,” pungkasnya.(Jfr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *