Press ESC to close

Ulin Karuhun, Komunitas Seni Tradisi Pertahankan Budaya Leluhur

  • December 6, 2019

Dejabar.id, Bandung – Ada banyak warisan nenek moyang kita baik berupa seni tradisi atau budaya yang tersebar di berbagai daerah di Nusantara. Saya sendiri bersyukur bisa lahir di bumi pertiwi ini. Soalnya kalau di negara lain belum tentu saya bisa melihat keragaman dan kekayaan budaya seperti di sini. Indonesia memang menakjubkan, bener gak?

Seperti salah sarunya budaya yang ada di Jawa Barat yang notabene berasal dari suku Sunda. Tapi semua keragaman budaya itu percuma saja jika tak ada orang yang peduli untuk melestarikannya. Apalah artinya semua itu jika tak ada orang yang sadar dan mau merawatnya. Setuju kan?

Nah kebetulan sekali, saya bersyukur masih banyak menemukan orang-orang yang mau menjaga warisan nenek moyang tersebut, seperti salah satu komunitas yang satu ini, yaitu komunitas “Ulin Karuhun” yang berada di Bandung, Sekre pusatnya ada di Komplek Bina Karya 2, No 8, Cimekar, Cileunyi. Anggotanya sendiri hingga kini ada sekitar 70 orang.

Eh kamu pasti penasarankan apa sih Ulin Karuhun itu. Menurut salah satu pengurus Ulin Karuhun, Bambang Q Anees atau yang akrab disapa Beqi mengatakan, Ulin Karuhun secara harfiah berarti permainan yang dimiliki leluhur bangsa ini.

Tujuan dari didirikannya Ulin Karuhun ini, menurut Bambang, ingin melestarikan warisan nenek moyang yang pernah dilakukan dahulu kala.

“Jenis permainan ini sudah dilupakan karena tergantikan oleh permainan baru dari bangsa lain. Ada banyak jenis permainan nenek moyang, salah satu yang dikembangkan kami (Ulin Karuhun) adalah pencak Silat Lokal dan ruwatan budaya,” ungkap Bambang kepada Dejabar.id.

Ada dua jenis kegiatan rutin yang dikembangkan Ulin Karuhun. Pertama transfer pengetahuan dan skill Silat Lokal dan Harmonisasi Alam melalui Ruwatan Semesta.

“Silat Lokal memiliki keistimewaan yang sudah tidak diperhatikan dan dilupakan, padahal beberapa gerakannya memiliki akurasi serangan dan keindahan yang tak dimiliki oleh jenis bela diri lainnya, inilah salah satu yang dikembangkan Ulin Karuhun,” tuturnya.

Kegiatan yang kedua ini memang sangat menarik, yaitu Ruwatan atau Harmoni Alam, yakni sebuah ritual yang bertujuan untuk menyeleraskan alam.

Menurut Bambang, ada prinsip dasar dari karuhun bahwa segala masalah yang terjadi pada manusia (sosial, politik, ekonomi, budaya) disebabkan karena adanya ketidakharmonisan pada alam.

“Penyelesaian masalah tidak bisa langsung dilakukan pada titik masalahnya, yang diperbaiki harmoni alam dulu. Jika Alam sudah harmoni secara fisik dan spiritual, masalah akan terselesaikan dengan baik,” paparnya.

Selain itu, ada juga kegiatan yang lain, yaitu mendalami dan mengkaji sastra Sunda. “Di samping mengaji karya sastra Haji Hasan Mustapa, kami juga belajar menulis sastra Sunda,” cetusnya.

Untuk agenda kegiatan sendiri, komunitas Ulin Karuhun ini secara rutin, seminggu sekali melakukan pengembangan Silat. Sementara Pengkajian Sastra Sunda dilakukan setiap dua minggu sekali di sekitar kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

“Adapun fokus kegiatan Ulin Karuhun ini yankni mecoba melestarikan dan merawat kearifan lokal Budaya Sunda dalam menjaga diri, menjaga orang lain, dan menjaga alam semesta,” jelasnya.

Tentunya kamu juga harus tahu seperti apa yang dikatakan sesepuh Komunitas Ulin Karuhun ini. Dirinya berpesan kepada kaula muda zaman sekarang untuk bisa menemukan identitas, bisa belajar tentang sejarah serta agar bisa tetap menghargai para leluhur atau nenek moyang kita.

“Tanpa masa lalu tak ada masa kini. Atau masa kini adalah terusan dari masa lalu. Ulin karuhun penting bagi generasi saat ini agar mereka tetap menjadi bagian dari sejarah dan keraifan lokal. Tanpa masa lalu, mereka akan jadi malinkundang-malinkundang baru, sukses tapi jadi batu, membatu hatinya,” pungkasnya.

Selaku sesepuh atau pengurus Ulin Karuhun, Bambang berharap agar Ulin Karuhun ke depannya bisa tersebar hingga ke seluruh Nusantara.

“Kami berharap ada ulin karuhun di banyak provinsi atau di seluruh tempat di Nusantara ini. Kalau tidak segera, tradisi karuhun akan punah, jadi segeralah bangun bersama,” tutupnya.

Adapun kegiatan Ruwatan yang sudah dilakukan di berbagai daerah diantaranya; di Gunung Galunggung, Gunung Tampomas, pantai Pelabuhan Ratu, Gunung Manglayang, bendungan Jati Gede, Gunung Gede Pangrango, Tangkuban Parahu, hulu Cimanuk, Astana Gede. (Red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *