Press ESC to close

Upah ART Jadi Salah Satu Penyumbang Inflasi di Kota Tasikmalaya

  • July 5, 2019

DEJABAR.ID, KOTA TASIKMALAYA – KPw BI Tasikmalaya merilis Inflasi Kota Tasikmalaya bulan Juni 2019 tetap terkendali, yaitu secara bulanan tercatat 0,28% (mtm), lebih rendah dari inflasi Provinsi Jawa Barat yang sebesar 0,48% (mtm) dan Nasional 0,55% (mtm). 

Kepala KPw BI Tasikmalaya, Heru Saptaji, mengatakan, angka tersebut membaik dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi 0,70% (mtm), bahkan lebih rendah dibandingkan rata-rata inflasi bulan Juni pada 3 tahun sebelumnya yang sebesar 0,62% (mtm). 

“Dengan pencapaian tersebut, inflasi tahunan tercatat sebesar 1,60% (yoy) dan inflasi tahun berjalan sebesar 1,54% (ytd),” ungkapnya.

Ia melanjutkan, secara umum, komoditas penyumbang utama inflasi adalah cabai merah (andil 0,042), tarif gunting rambut pria (andil 0,041), upah pembantu rumah tangga (andil 0,035), jengkol (andil 0,031), dan wortel (andil 0,025). 

Berdasarkan disagregasinya, tekanan kenaikan harga terutama berasal dari kelompok bahan makanan yang mengalami inflasi 0,76% (mtm) dengan andil 0,14% terhadap inflasi umum. 

“Namun angka tersebut lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 1,66% (mtm) dan memberikan andil 0,29% didukung oleh normalisasi harga pasca Ramadhan dan Idul Fitri,” tambahnya.

Kenaikan harga cabai merah yang juga terjadi di sebagian besar daerah lainnya di Indonesia disebabkan oleh terbatasnya pasokan. Di Kota Tasikmalaya, kondisi tersebut disebabkan oleh penurunan produksi karena serangan virus kuning yang semakin parah. 

Selain itu, fluktuasi harga sejak akhir tahun 2018 menyababkan petani beralih untuk menanam sayuran jenis lain. Pasokan dari panen cabai sebelumnya juga sudah menipis, sedangkan masa panen selanjutnya baru berlangsung pada akhir Juni. 

Pada bulan Juni, tekanan inflasi dapat tertahan oleh penurunan harga beberapa komoditas, terutama bawang putih (andil -0,033), telur ayam ras (andil -0,024), daging ayam ras (andil -0,017), bawang merah (andil -0,011), dan angkutan antar kota (andil -0,008).

“Penurunan harga bawang putih didorong oleh kecukupan pasokan dengan telah masuknya impor. Demikian pula pada daging ayam, dimana telah terjadi penurunan harga seiring kembali normalnya permintaan masyarakat disertai tercukupinya pasokan,” terangnya.

Sesuai pola historisnya, harga komoditas pangan strategis seperti telur ayam, daging ayam, dan bawang merah, serta tarif angkutan antar kota akan kembali normal pasca Idul Fitri.

BI mencatat, pada bulan Juli 2019, diperkirakan masih terjadi inflasi namun masih dalam kisaran yang rendah dan terkendali. Menurutnya, risiko kenaikan harga masih berasal dari komoditas pangan strategis dengan harga yang fluktuatif seperti telur dan daging ayam, serta hortikultura. 

“Sehubungan dengan hal tersebut, TPID Kota Tasikmalaya terus berupaya melakukan berbagai program pengendalian inflasi, antara lain dengan pengembangan Klaster Ayam Petelur Kota Tasikmalaya,” ungkapnya.

Pada pengembangan klaster tersebut, dilakukan implementasi pemanfaatan teknologi pertanian pada pakan fermentasi, sehingga menghasilkan efisiensi biaya produksi melalui penurunan jumlah kebutuhan pakan.

“Dengan demikian, diharapkan harga jual akhir menjadi lebih rendah dan inflasi semakin terkendali,” tandasnya. (Ian) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *