Press ESC to close

Usia Lanjut Lebih Rentan Menjadi Penyebar Hoaks, Begini Faktanya!

  • January 19, 2019

DEJABAR.ID – Menjelang pergantian Pilpres 2019, adalah momemtum dimana salah satu pendukung biasanya akan menyerang salah sati calon lain. Dan yang dikhawatirkan adalah tersebarnya berita-berita hoaks, mengingat media saat ini sangat mudah diakses dan bisa dimanipulasi.

Hal tersebut terkadang tak bisa dihindarkan dan karena bagi sebagian bihak hak teraebut adalah cara untuk menjatuhkan lawannya.

Berita hoaks biasanya menyebar di media sosial dan kerap memancing perdebatan. Umumnya, orang yang berusia lanjut akan lebih sering membagikan berita hoaks tersebut. Alasannya apa ya kira-kira? Yuk cari tahu!

Hasil penelitian dari Universitas New York dan Priceton bahwa generasi usia lebih lanjut paling sering menyebarkan berita hoaks. Sperti dilansir dari The Guardian, dalam penelitiannya, mereka menganalisa riwayat unggahan milik 1.750 pengguna Facebook berusia dewasa.

Peneliti menemukan bahwa orang-orang lanjut usia lebih banyak menggunggah informasi yang berasal dari sumber fake news alias berita palsu. Sebagian besar orang tidak berbagi artikel dari domain berita palsu pada 2016. Sementara, 8,5 % membagikan setidaknya satu tautan ke domain berita yang tak terbukti kebenarannya.

Sementara itu, situs partisipan seperti Breibart yang pro sayap kanan, tidak masuk dalam kategori penyebar berita palsu. Mereka yang membagikan konten-konten umum jarang menyebar konten berita palsu.

Menurut informasi tersebut, orang-orang yang membagikan banyak tautan lebih memahami media dan mampu membedakan berita yang benar ketimbang berita palsu yang beredar di internet. Temuan tersebut didukung oleh data demografi yang menyebutkan bahwa orang-orang dengan usia lebih dari 65 tahun yang telat mengenal internet dua kali lipat lebih sering berbagi artikel palsu ketimbang mereka yang lebih muda.

Penyebabnya adalah mereka yang berusia lanjut tidak punya tingkat literasi media digital seperti pengguna yang berusia lebih muda. “Ketika generasi terbesar di Amerika memasuki masa pensiun saat ada perubahan demografis dan teknologi, ada kemungkinan seluruh kelompok orang Amerika yang sekarang berusia 60 tahun ke atas tak memiliki tingkat literasi media digital yang diperlukan, guna menentukan kepercayaan atas berita yang beredar di internet,” tulis peneliti dalam laporannya.

Selain itu, kemungkinan kedua yang membuat orang lanjut usia lebih banyak menyebarkan berita palsu adalah adanya dampak dari penuaan memori. “Ingatan yang memburuk seiring bertambahnya usia dengan cara yang secara khusus merusak resistensi terhadap ilusi kebenaran,” lanjutnya.

Hasil penelitian menunjukkan pengguna Facebook Amerika dengan usia di atas 65 tahun, membagikan lebih tujuh artikel yang tak terbukti kebenarannya dibandingkan mereka yang berusia 18 hingga 29 tahun. Hal ini juga marak terjadi di Indonesia. Tidak hanya berbagi tautan di Facebook, namun juga di berbagai media sosial seperti grup Whatsapp dan Twitter.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *