Sosialisasi Empat Pilar Berbangsa Dan Bernegara, TB. Hasanuddin: Empat Pilar Ini adalah Panduan Ketatanegaraan Untuk Capai Kemakmura


Selama masa Orde Baru, Pancasila kehilangan ‘roh’ dan ‘jiwa’ nya sebagai simbol perjuangan rakyat Indonesia untuk merdeka. Pancasila hanya hadir di buku-buku pelajaran sekolah, diruang kelas, pada saat upacara bendera, diposter, bukan di hati setiap rakyat Indonesia. “Ironisnya, pada awal masa reformasi, Pancasila masih dilecehkan, hal ini dikarenakan selama masa Orde Baru, Pancasila digunakan sebagai salah satu bentuk propaganda penguasa untuk melanggengkan kekuasaan,” kata Anggota DPR RI, TB. Hasanuddin Saat Sosialisasi 4 Pilar Berbangsa dan Bernegara di Hotel Handayani, Sumedang, Jawa Barat, Jum’at (7/12).

Purnawirawan Jenderal TNI itu menyebut jika Pancasila adalah dasar yang mampu menyatukan Negara Kesaturan Republik Indonesia (NKRI). Pancasila itu harus menjadi panduan dalam bernegara. Pada 1 Juni 1945, Soekarno mengemukakan pemikirannya tentang Pancasila, yaitu nama dari lima dasar negara Indonesia, di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Rumusan lima dasar negara sebagaimana tercantum dalam UUD 1945 adalah: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusaiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan atau perwakilan dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Selain Pancasila Pilar Lainnya yang harus menjadi pedoman dalam ketatanegaraan adalah Undang Undang Dasar 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika,” ungkap Anggota Komisi 1 DPR ini. Pada prinsipnya, Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara, kedudukannya berada di atas tiga pilar yang lain. Empat pilar tersebut merupakan prasyarat minimal bagi bangsa Indonesia untuk berdiri kukuh dan meraih kemajuan berlandaskan karakter kepribadian bangsa Indonesia sendiri.

Sementara itu UUD 1945 Nilai-nilai luhur Pancasila tertuang dalam norma-norma yang terdapat dalam Pembukaan dan Batang Tubuh UUD 1945. Norma konstitusional UUD 1945 menjadi acuan dalam pembangunan karakter bangsa. Keluhuran nilai dalam Pembukaan UUD 1945 menunjukkan komitmen bangsa Indonesia untuk mempertahankan pembukaan dan bahkan tidak mengubahnya.

Pilar ketiga adalah NKRI Dalam Pasal 1 ayat 1 UUD 1945 disebutkan negara Indonesia adalah Negara Kesatuan yang berbentuk republik. Dalam pembangunan karakter bangsa dibutuhkan komitmen terhadap NKRI. Karakter yang dibangun pada manusia dan bangsa Indonesia dalah karakter yang memperkuat dan memperkukuh komitmen terhadap NKRI. Pilar terakhir adalah Bhineka Tunggal Ika.

Indonesia ini, terdiri dari beragam suku bangsa dan bahasa daerah. Meskipun demikian, kita ini satu keluarga Indonesia, saling menasehati, saling melindungi, dan saling menghormati. “Bhinneka Tunggal Ika itu artinya menghargai perbedaan. Ibarat sebuah taman, ada beragam bunga yang berbeda, saling melengkapi, dan memperindah taman,” ungkap Hasanuddin.