DEJABAR.ID – Institut Nalar Jatinangor dan Second House menggelar Seminar Nasional bertajuk “Menggali Produktivitas Putu Wijaya” dalam rangkaian acara Putu Wijaya “Bertolak Dari Yang Ada,” di Gedung PPK (YPK) Jl. Naripan No. 7-8 Bandung, Sabtu pagi (02/03/19).
Acara dimulai dengan sajian musik balada dari musisi Bandung Adew Habtsa dilanjutkan pembukaan oleh Ketua Pelaksana Seminar Topik Mulyana. Dalam sambutannya Topik menjelaskan bahwa seminar nasional bertajuk “Putu Wijaya Bertolak Dari Yang Ada” ini penting diadakan karena penggalian produktivitas kekaryaan dari karya seorang maestro seperti Putu Wijaya untuk pendalaman pengetahuan seni dan budaya pada umumnya karena karya-karya PW ini sangat beragam tidak hanya di bidang sastra melainkan teater, dan seni rupa.
“Penggalian produktivitas kekaryaan Putu Wijaya di bidang seni dan budaya penting untuk kita gali. Apalagi Putu Wijaya adalah seniman yang serba bisa. Kemampuannya dalam menulis sastra, sudah menghasilkan karya-karya hebat seperti novel, cerpen, naskah drama, juga tidak hanya itu garapan teater dari naskahnya sendiri beliau pentaskan bersama Teater Mandiri yang dipimpinnya. Dan tidak hanya itu rupanya PW juga menghasilkan karya-karya lukisan yang menarik juga.”
Kemudian para pembicara yang mengisi seminar tersebut mewakili bidangnya masing-masing di antaranya Herry Dim (Seniman), Putu Fajar Arcana (Wartawan Kompas), Lina Meilinawati Rahayu (Dosen FIB Unpad), dan Asep Solahudin (Dosen IAILM Suryala) dan dimoderatori oleh Lili Awaludin (Dosen Sastra Inggris UIN Bandung).
Selain itu, menurut Herry Dim selaku pengamat seni, ia melihat dari sisi keteateran, dalam paparannya Herry Dim mengungkapkan bahwa teater itu bisa dikatakan hebat setelah berada di panggung.
“Naskah yang ditulis Putu Wijaya jika hanya membaca teksnya saja bisa kesulitan, namun bisa mudah dipahami jika menonton pertunjukannya. Teks tidak bisa lepas dari ruang gerak (pertunjukan).” terangnya.
Herry Dim juga mengungkap bahwa kehebatan teater Putu Wijaya terletak pada vitalitas dan enerji. “Bayangkan saja olah tubuh dari jam 22.00 sampai dini hari karena di sisi lain teater itu merupakan pergulatan manusia mencari dirinya.”
Selanjutnya dari hasil amatan dari sisi geneologi oleh Putu Fajar Arcana bahwa sebetulnya Putu Wijaya secara geneologi berasal dari keturunan kerajaan Bali dari kalangan ksatria.
“Artinya sebagai masyarakat dia memiliki posisi penting. Dalam konsep berkeseniannya PW selalu melakukan pemberontakan pada sistem kerajaan dan berpihak pada kerakyatan. Yakni “memberontak tanpa membenci.”
Sementara Lina Meilinawati Rahayu sebagai pembicara ketiga melihat dari sudut pandang yang lain. “Jika melihat judul-judul karya Putu Wijaya teksnya itu bersifat “subversif” atau dari sisi lain ada kecenderungan “foreshadowing dramatic” dalam bahasa Sunda disebut dengan kila-kila atau pertanda.”
Seminar ini diisi oleh para pembicara mewakili bidangnya masing-masing di antaranya Herry Dim (Seniman), Putu Fajar Arcana (Wartawan Kompas), Lina Meilinawati Rahayu (Dosen FIB Unpad), dan Asep Solahudin (Dosen IAILM Suryala) dan dimoderatori oleh Lili Awaludin (Dosen Sastra Inggris UIN Bandung). (BF/red)
Leave a Reply