Press ESC to close

Kreatif, Para Pemudik Ini Tempelkan Pesan-pesan Unik di Belakang Kendaraannya

  • May 31, 2019

DEJABAR.ID, CIREBON – Mudik lebaran merupakan momen yang paling dinanti-nanti bagi para perantau di ibu kota, agar bisa pulang ke kampung halaman dan merayakan momen lebaran bersama keluarga. Karena itu, memasuki hari Lebaran, jalur-jalur arteri mulai dipadati oleh para pemudik.
Para pemudik ini tidak hanya sekedar bermudik saja. Dengan sedikit kreatifitas, mereka membuat tulisan-tulisan yang berisi sebuah pesan, ataupun penyemangat selama perjalanan mudik. Tulisan-tulisan atau kata-kata tersebut ditempel di belakang kendaraan bermotor mereka.
Seperti yang dialami oleh Seto, pemudik asal Purwokerto yang mudik dari Jakarta Selatan ini. Dia bermudik bersama anak dan istrinya. Tak hanya sekedar mudik saja, di bagian belakang sepeda motornya ditempeli kertas yang berisi tulisan “Minal Aidzin Wal Faidzin, Alon-Alon Wae, Sing Penting Selamet”, yang artinya “Minal Aidzin Wal faidzin, pelan-pelan saja, yang penting selamat” dalam bahasa Jawa.
Seto mengaku, dirinya iseng saja menempelkan tulisan tersebut, supaya bisa memberikan semangat bagi dirinya, dan juga mengingatkan kepada pengendara lain yang ikutan mudik.
“Iseng saja, jadi kita bawa kendaraannya pelan saja, yang penting selamat. Apalagi saya bawa anak kecil, kasihan kalau dibawa ngebut,” jelasnya saat ditemui dejabar.id di jalur Pantura Kabupaten Cirebon, Jumat (31/5/2019).
Selain Seto, ada juga beberapa pemudik yang melakukan hal serupa, dengan tulisan yang bermacam-macam. Berdasarkan pantauan dejabar.id di jalur Pantura, ada pemudik yang menempelkan pesan “Arep lebaran mengko aja ditakoni ‘kapan mbojo’, emang arep pada kondangan sepira”, yang artinya ‘Mau lebaran nanti jangan ditanyai ‘kapan nikah’, memangnya mau pada kondangan berapa”. Tulisan tersebut membuat beberapa pemudik lain yang ada di belakangnya merasa terhibur.
Kemudian, ada juga yang menempelkan tulisan “Cinta terlalu jauh, lanjut bae karo mudik Karawang-Brebes”, “Sing sabar mas, bokongku panas”. Bahkan ada juga yang menuliskan pesan yang mendalam, seperti “Yen koen ngerasa dadi wong melarat, aja meriang, semangat kerja, beras saiki wis larang,” yang artinya “Kalau kamu merasa jadi orang miskin, jangan sakit, semangat kerja, beras sekarang sudah mahal”.
Mereka pun mengaku hanya iseng membuat tulisan-tulisan seperti itu, agar menjadi hal-hal yang unik selama perjalanan mudik. Mayoritas yang membuat tulisan-tulisan tersebut adalah pemudik yang menggunakan kendaraan roda dua seperti motor.(Jfr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *