Anak Muda di Kota Cirebon Mayoritas Tidak Peduli Pemilu 2019


DEJABAR.ID, CIREBON – Pemilu 2019 merupakan ajang yang paling dinanti oleh masyarakat Indonesia. Karena, mereka akan memilih calon pemimpin bangsa yang bisa membawa perubahan negara Indonesia menjadi ke arah yang lebih baik. Karena itu, ajang lima tahun sekali ini menjadi momen yang paling ditunggu.
Namun, siapa sangka jika hingar bingar Pemilu 2019 merupakan hal yang biasa-biasa saja, terutama bagi anak-anak muda di Kota Cirebon. Hal tersebut didapatkan setelah tim Social Movement for Indonesia (SOFI) Institute melakukan survei terhadap 200 anak muda di Kota Cirebon, yang sudah memiliki hak memilih dalam Pemilu 2019.
Survei yang dilakukan dari rentang waktu Januari hingga Maret 2019 tersebut, didapatkan fakta bahwa 74,47% responden merasa biasa-biasa saja terhadap Pemilu 2019, terutama Pilpres. Selain itu, sebanyak 4,26% responden tidak peduli, dan 3,19% biasa saja. Sisanya, yakni 18,09% merasa gembira.
Menurut Direktur Eksekutif SOFI Institute, Abdurrahman Sandriyanie, fakta tersebut membuktikan bahwa sebagian besar anak muda di Kota Cirebon yang sudah memiliki hak pilih, merasa biasa-biasa saja dengan gelaran Pemilu 2019 ini. Mereka tidak tertarik dengan apa yang paling dinanti oleh orang-orang selama lima tahun sekali ini.
“Mereka tidak begitu peduli dan acuh terhadap Pemilu 2019 ini,” jelasnya saat ditemui awak media usai diskusi launching penelitian SOFI Institute di Continuum Space, Jalan Perjuangan Kota Cirebon, Jumat (12/4/2019) sore.
Meskipun mereka merasa biasa-biasa saja dan tidak peduli, lanjut pria yang akrab disapa Oman tersebut, tapi didapatkan data bahwa 62,11% anak muda di Kota Cirebon, akan memilih berdasarkan kesadaran sendiri. Ini tentunya merupakan suatu bentuk yang positif terhadap gelaran Pemilu ini. Adapun sekitar 16,84% memilih karena dorongan keluarga, 5,26% memilih karena guru agama, 11,58% karena tim kampanye, dan 4,21 karena pertemanan.
Dalam survei tersebut, lanjut Oman, terdapat 19 tren yang dijadikan bahan. Selain tentang kompetisi Pilpres dan dorongan memilih yang sudah dijelaskan tadi, ada tren lainnya yang juga menghasilkan data-data persentase yang unik dengan anak-anak muda di Kota Cirebon.
Oman menjelaskan, survei ini mengajak 100 responden secara tatap muka, dan 100 responden secara online. Adapun respondennya terdiri dari siswa SMA yang sudah memiliki hak pilih, mahasiswa yang berdomisili di Kota Cirebon, serta komunitas-komunitas yang berusia maksimal 25 tahun.
“Karena objek survei kita anak muda, jadi kita batasi juga usia maksimal hingga 25 tahun,” pungkasnya.(Jfr)