
Ketulusan selalu akan berbalas ketulusan. Itu adalah hukum semesta yang tak bisa terbantahkan. Saya menyaksikannya saat tadi mengantarkan Almarhum Ibu Rahmi Winangsih, Sosok Perempuan yang telah mandarmakan hidupnya untuk Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP ) Untirta, ke peristirahatan terakhir. Bu Rahmi, begitu saya memanggilnya mengampu mata kuliah Dasar-Dasar Ilmu Komunikasi. Ia sering mengulas Teori Laswell atau Teori Jarum Hipodermik yang cukup terkenal itu. Dengan pembawaannya yang santai dan sabar, Bu Rahmi tidak hanya menjadi pengajar namun juga pendidik. Bu Rahmi, bagi saya dan saya yakin bagi teman-teman yang pernah diampunya adalah sosok keibuan yang mengalirkan kasih sayang, ketimbang hanya mengirimkan teks demi teks dalam kuliahnya. Gaya mengajarnya mungkin sederhana, tapi ketulusan untuk mendidiknya yang membuat kami merekamnya sebagai seorang pendidik.
Tak terbilang, khususnya teman-teman di Ikom, FISIP bercerita kebaikan Almarhumah. Ada yang nilai yang tak bisa UAS oleh dosen karena tak memenuhi syarat absen, Bu Rahmi ikut membantu “mendamaikannya”, ada pula kawan yang kesulitan berkomunikasi dengan pembimbing, Bu Rahmi ikut menenangahi, bahkan ada pula mahasiswa yang “ngamuk” karena tak bisa mengikuti skripsi karena tidak disiplin waktu Bu Rahmi ikut menenangkan. Bu Rahmi itu “Indungnya” FISIP. Musabab itulah Alumni Universitas Padjadjaran itu menjadi Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi selama dua kali dan terus dipercaya menjadi Wakil Dekan FISIP.
Saya telah bersinggungan dengan beliau semenjak awal kuliah di Untirta. Bu Rahmi belum menjadi Kajur, tapi beliau telah mengajar Dasar-Dasar Ilmu Komunikasi. Selepas menyampaikan materi biasanya ia langsung meminta feedback kepada teman-teman mahasiswa. Dan sialnya saya sering mendapatkan giliran pertama untuk memberikan pendapat itu saya. Usut punya usut, ia akrab dengan nama saya karena sering membaca kolom harian Radar Banten, saat itu saya sering menulis artikel, baik di kolom khusus Rumah Dunia, maupun tulisan saya sendiri. Alasan lainnya, karena beliau sering melihat saya nongkrong di kantin membawa buku kuning Dedi Mulyana. Hehe.
Interaksi saya dengan almarhum semakin inten, saat saya semester empat, saya mulai bekerja di Radar Banten. Saya sering minta ganti jam, karena ada janji dengan narasumber. Beliau tak repot dan tak marah, memberikan keluasaan waktu, yang penting tak tertinggal materi. Bagi Almarhumah, Pendidikan tak hanya sekedar di dalam kelas. Di setiap sudut interaksi bagi almarhumah adalah pelajaran. Hingga saya lulus dan bekerja di BantenTV dan MetroTV, Almarhum terus memberi motivasi, hingga akhirnya ia dipercaya menjadi Ketua Prodi. Almarhumah berkali-kali ingin menjadikan IlMu komunikasi menjadi jurusan terbaik di Untirta.
Bersama dosen-dosen yang lain, perempuan kelahiran Serang itu menjadi motor untuk akreditasi prodi Ilmu Komunikasi. Dan alhamdulillah saya selalu datang, jika beliau yang kontak. Termasuk saat perumusan kurikulum akademik 2021, Bu Rahmi ingin update mata kuliah Ilmu Komunikasi Untirta dalam menghadapi kemajuan teknologi Revolusi 5.0. Terakhir duduk bersanding dengan beliau adalah saat saya menjadi moderator penyampaikan visi misi Dekan FISIP Untirta 2023-2027. Bu Rahmi yang saat itu menjadi Wakil Dekan Akademik. Di sisa usianya yang tak muda lagi ia sering telpon ingin menjadikan FISIP Untirta menjadi Fakultas terbaik dan kebanggaan Untirta dan Banten. Insyallah, Bu Rahmi telah menjadi syahid, Ia meninggal dalam perjalanan ke kampus, kabarnya janjian membimbing adik saya yang sedang menyusun Tesis di Pasca Sarjana Ilmu Komunikasi Untirta . Ia wafat dengan mudah tanpa merepotkan orang-orang di sekelilingnya. Selamat Jalan Bu. Ibu adalah Indung Fisip.
H.Bahroji, S.Sos, M.Si
(CEO Sultan Group)
Leave a Reply