Press ESC to close

Di Majalengka, Prabu Siliwangi dan Bung Karno Dipercaya Pernah Singgah di Objek Wisata Ini

  • October 20, 2018

MAJALENGKA- Menurut masyarak setempat, Prabu Siliwangi pernah tinggal di lereng Gunung Ciremai. Tepatnya di kawasan hutan Desa Pajajar, Kecamatan Rajagaluh, kurang lebih 35 km arah timur dari pusat Kota Majalengka. di hutan itulah raja Pajajaran yang dikenal gagah berani, bersemedi di sebuah pesanggrahan yang di bangunnya.
Sayang, setelah mendapat gelar kehormatan sebagai Sri Ratu Dewata Wisesa, Parabu Siliwangi lantas menghilang. Bangun pesanggarahan yang megah dan semua infrastruktur yang ada di kawasan hutan Pajajar sirna menjelma menjadi hutan belantara.
Versi lain menurut babad Cirebon, menghilangnya Prabu Siliwangi dari bumi Pajajar, karena ia menolak masuk Islam. Kangjeng Sunan Gunungjati alias Syeh Syiarif Hidayatullah yang juga cucunya itu, pernah meminta agar Prabu Siliwangi segera masuk Islam dan bersama sama menyebarkan agama Allah di kawasan Parahiyangan, namun permintaan cucunya itu ditolak.
Sebagai bukti bahwa Prabu Siliwangi pernah lama tinggal di Kawasan Majalengka, ditandai peninggalan sejarahnya, seperti ada tumpukan bebatuan, bekas bangunan di bukit Pajajar dan sebuah sumber air bersih di atas bukit Pajajar.
Bebatuan itu di percaya adalah bekas bangunan Kraton Prabu Siliwangi, sebuah batu besar berukuran 5 X 6 x 2,5 meter dimana dalam batu besar itu terpancar sumber air bersih yang dinamakan Sanghyang Talaga Pancur.
Dalam sejarahnya, Desa Pajajar dahulunya bernama Desa Pajajaran alias Desa Indrakila. Pada tahun 1600 di ubah namanya menjadi Desa Pajajar, perubahan nama itu akibat pertentangan paham sejarah Parabu Siliwangi.
Kuwu Pajajaran Mbah Dingklong terpaksa mengubah menjadu Desa Pajajar karena dia berkeyakinan lokasi kerajaan Pajajaran di pakuan Bogor bukan di Desa Pajajar Kecamatan Rajagaluh, Majalengka.
Terlepas dari banyaknya paham mengenai sejarah Kerajaan Pajajaran, yang penting bagi Jubaedi alias Jubed selaku pengelola obyek wisata tersebut dan Kepala Desa Pajajar itu, merupakan kewajiban dari nenek moyangnya, bahwa hutan Pajajar harus dijaga kelestariannya. Hutan Pajajar yakni sebuah tempat air yang mampu membantu jutaan penduduk dari ancaman kekeringan.
Hutan yang luasnya sekira 4.5 hektar ini ditumbungi ribuan pepohonan besar yang usianya ratusan tahun, dari sumber air Pajajar telah banyak dimanfaatkan untuk sumber air PDAM Kabupaten Majalengka.
Ratusan hektare sawah di kecamatan Rajagaluh, Leuwimunding, dan Kecamatan Sukahaji, kata dia, dialiri dari sumber mata air hutan Pajajar. Tak hanya itu, Ribuan rumah penduduk juga menggunakan air bersih dengan selang plastik dari hutan Pajajar ke rumah rumah penduduk tersebut.
Menurut dia, Hutan dilindungi Undang Undang (UU) sebagai cagar budaya dan menjadi Obyek Wisata Alam resmi Kabupaten Majalengka. Keindahan hutan Prabu Siliwangi sudah tidak di ragukan lagi, pepohonan yang besar dan rindang, mata air yang menyemburatkan air yang sangat bening dan dingin, menjadi kawasan hutan Prabu Siliwangi menjadi sangat sejuk.
Puluhan monyet lalulalang di setiap pohon, ada yang loncat-loncat kegirangan, ada juga yang mencari makan. Selain monyet, hutan Pajajar juga dihuni aneka binatang lainya, seperti landak, ular, kelalawar, musang, babi hutan dan anjing hutan (srigala).
Bahkan, lanjut dia, sering orang menemukan harimau di tengah malam, di bawah sumber air terdapat kolam alami dengan bebatuan besar, di kolam itu banyak para Wisatawan mandi berenang menikmati sejuknya alam dan mata air yang jernih.
Tak jauh dari kantor Desa Pajajar terdapat sebuah kolam renang dilengkapi sarana bermain anak anak, kolam renang yang sudah hampir belasan tahun itu di kelola Dinas Pariwisata Kabupaten Majalengka.
Aset Pajajar dibagi dua, untuk kawasan Wisata hutan dikelola Kelompok Pemuda Pariwisata Pajajar (KP3), hasil tiket Wisata, semuanya untuk kas pembangunan desa karena setatus kepemilikan hutan adalah milik Desa Pajajar, sementara itu Pemkab Majalengka hanya diberi porsi untuk Wisata kolam renang dan jatah sumber air PDAM.
Di dekat batu besar yang sekelilingnya dipagar kawat berduri yang konon dipercaya bekas puing bangunan pesanggrahan Siliwangi itu ada sebuah tulisan “Kayu Soekarno”.
Tulisan itu menandakan bahwa pada tahun 1944 sebelum Indonesia merdeka, Bung Karno pernah mengunjungi situs tersebut, Bung karno menanam sepuluh batang bibit pohon asem yang sekarang sudah besar besar.(jja)
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *