Press ESC to close

Gangguan Mythomania: Bohong Tetapi Tidak Sadar Sedang Berbohong

  • October 6, 2018

DEJABAR.ID – Belakangan ini banyak kasus penyebaran hoaks atau orang yang menyebarkan berita palsu alias berbohong. Biasanya kasus-kasus itu muncul karena tujuan tertentu. Dampaknya, masyarakat yang mudah percaya menjadi rusuh karena kabar-kabar bohong yang beredar.
Tentang banyaknya berita bohong ini, tahu tidak sobat kalau ternyata ada kasus di mana seseorang berbohong tetapi dirinya tidak sadar dirinya sedang berbohong?
Orang yang seperti itu dapat disebut pembohong patologis atau seorang mythomania. Istilah mythomania sendiri muncul tahun 1905 oleh seorang psikiater bernama Ferdinand Dupre.
Mythomania meruoakan kecenderungan seseorang yang terus berbohong. Semakin lama, mereka akan menjadikan itu sebuah kebiasaan dan akhirnya tidak sadar lagi dan percaya bahwa apa yang mereka sampaikan itu sebuah kebenaran. Biasanya kebohongan yang dilakukan mencakup perilaku mereka dan rutinitas sehari-hari.
Mythomania ini bukan lah sebuah penyakit melainkan serangkaian gejala penyakit kejiwaan, terutama gangguan kepribadian. Gangguan psikologis ini sering terjadi dan bakal terus berlanjut.
Karena setiap kebohongan yang dilakukan, akan berdampak pada hubungan sosial dan bisa menyembunyikan beberapa masalah serius. Apalagi dengan filosofi bahwa kalau sudah berbohong, untuk menutupi kebohongan itu harus melakukan kebohongan lainnya, bakal membuat mereka yang menderita mythomania akan terus menerus berbohong.
Namun, tidak selalu orang yang berbohong adalah mythomania. Ada juga orang yang berbohong karena punya tujuan tertentu, misalnya melakukan white lies atau melindungi dirinya dan orang lain.
Perbedaannya adalah, mereka yang terkena mythomania akan melakukan kebohongan secara kompulsif dan terkadang tanpa motivasi atau tujuan sama sekali. Kebohongannya juga sering nggak masuk akal.
Jenis mythomania
Mythomania terdiri dari 2 jenis, adalah vain mythomania dan mythomania menyimpang. Jenis yang pertama, orang yang melakukannya cenderung berbohong untuk membesar-besarkan sesuatu. Misalnya, kesuksesan, kekayaan, atau perbuatan baik mereka.
Sementara jenis yang kedua, mythomania menyimpang, orang yang melakukan kebohongan bertujuan untuk menyakiti orang lain. Misalnya tuduhan palsu, ujaran kebencian, atau fitnah.
Kenapa mereka melakukan kebohongan seperti ini?
Orang dengan mythomania biasanya mengalami kecemasan tinggi karena mereka kecewa dengan kenyataan yang ada di hidup mereka.
Makanya mereka menciptakan kebohongan supaya merasa diri mereka lebih baik dari kenyataan.
Lalu, tingkat percaya diri mereka juga cenderung rendah. Mereka nggak bisa menerima kenyataan yang ada di hidup mereka, dan mereka nggak bisa menerima diri mereka sendiri. Selain itu, rasa stres yang ditimbulkan dari usaha mereka untuk menutupi kebohongan yang sudah mereka lakukan sebelumnya juga bisa mendorong mereka untuk terus menerus berbohong.
Mereka yang mythomania merasa rendah harga dirinya, mengalami ketidakpuasan, butuh kasih sayang dan cinta, dan tidak diterima di lingkungan sosial.
Mythomania mengaku sebagai korban
Orang yang terkena mythomania sebenarnya korban dari ketidakbahagiaan dalam hidupnya dan korban dari penderitaan yang terus menerus. Kalau sobat mau menolong mereka, caranya tidak usah dengan berusaha mengerti kenapa mereka melakukan itu, karena akan sia-sia.
Ajak mereka untuk ikut konseling. Psikolog atau psikiater bakalan mengevaluasi orang tersebut untuk tahu gangguannya separah apa. Karena banyak pasien yang nggak sadar sama kondisinya, keluarga dan orang terdekat bisa banget ngebantu soal riwayat kesehatan.
Setelah itu, terapi kognitif bisa dilakukan. Misalnya tindakan, latihan, atau aktivitas yang membantu pasien menemukan dari mana sih rasa rendah diri mereka. Mengobati mythomania tergantung pada seberapa parah kondisinya.
Ini bisa jadi melelahkan dan perjalanan yang panjang, karena melibatkan perubahan persepsi soal realitas yang diyakini sama si penderita mythomania. Kesabaran, kasih sayang, dan keuletan support system bisa jadi kunci buat kesembuhan mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *