DEJABAR.ID, CIREBON – Dalam suasana lebaran ini, halalbihalal sudah menjadi tradisi di Indonesia. Namun, ada yang unik dalam tradisi halalbihalal yang dilakukan di tiap keraton di Cirebon, salah satunya adalah Keraton Kanoman Cirebon.
Dalam prosesi tersebut, keluarga Keraton Kanoman, abdi dalem, margesari, dan seluruh lapisan masyarakat yang hadir, bersalaman secara berbaris sambil melakukan sungkeman kepada Sultan Raja Muhammad Emirudin dan Ratu Dalem Hj. Sri Mulya, beserta para sesepuh dan keluarga Keraton Kanoman yang lain, Minggu (9/6/2019).
Menurut Juru Bicara Keraton Kanoman Cirebon, Raja Ratu Arimbi Nurtina, prosesi halalbihalal dan pisowanan ini memiliki arti penting untuk saling memaafkan kesalahan antar sesama, dan memperkuat ukhuwah antar keluarga Keraton, serta menjalin ukhuwah basyariyah atau persaudaraan antar sesama manusia.
Selain itu, lanjutnya, prosesi ini juga memiliki arti dan makna tentang perlunya menanamkan nilai kerendahan hati, tata krama, sopan santun atau dalam istilah Cirebon disebut anggah-ungguh, agar perilakunya tidak menyimpang dari nilai dan norma yang sudah diajarkan oleh para leluhur.
“Arti dan makna nilai-nilai itu terkandung ketika prosesi sungkeman atau pisowanan berlangsung. Di situlah penanaman nilai dan norma diaplikasikan dengan menundukan kepala dan saling berucap kata-kata mulia,” jelasnya, Minggu (9/6/2019).
Sementara, lanjutnya, nilai dan norma untuk saling memaafkan antar sesama dan sarana rekonsiliasi ada pada prosesi halalbihalal. Dengan demikian, prosesi halal-bihalal dan pisowanan ini bagian dari ajaran yang bertujuan untuk menggapai peradaban kemanusian dan nilai-nilai luhur dalam membangun kehidupan antar sesama manusia.
“Juga memaknai Idul Fitri secara proporsional dan totalitas untuk bersama-sama kembali ke fitrah, kesucian manusia sebagaimana bayi yang baru dilahirkan,” pungkasnya.(Jfr)
Leave a Reply