Kegiatan Geber Sangu Bandung Jilid III Berhasil Bawa Turun 758 Kg Sampah dari 5 Gunung


Dejabar.id, Bandung – Kegiatan gerakan bersih sampah gunung Bandung (Geber Sangu Bandung) yang sudah dilakukan dalam kurun waktu 3 tahun kini kembali digelar di lima Gunung selama 2 minggu, mulai 2 – 17 November 2019. Namun dari grafik sampah yang dihasilkan sama sekali tidak berkurang dengan kata lain pola perilaku wisatawan masih belum berubah.

Menurut salah satu penggagas, Dwitya Utama, total sampah yang berhasil dibawa turun dari 5 gunung , yaitu G. Putri, G. Jayagiri, G. Manglayang, G. Burangrang, G. Koromong, dan Puncak 2020 (Rancaupas) adalah 758 Kg, dengan total volunteer 262 orang dari banyak komunitas yang konsen dalam kegiatan alam bebas di Bandung.

Hal ini, sambungnya masih menjadi pekerjaan rumah yang cukup panjang, namun para volunteer tidak pernah berhenti atau menyerah dalam menyelesaikan persoalan sampah khususnya di hutan gunung.

“Kami pun sadar, kami berada didalam lingkarang ekspoitatif tersebut, namun dengan adanya kegiatan ini kami ingin merubah perilaku dari sebelumnya dan mengembalikan kelestarian hutan dari gunungan sampah yang akan menyebabkan banyak masalah’’ ungkap Dwitya kepada Dejabar.id. 

Kegiatan ini dilakukan dalam waktu 2 minggu 2 – 17 November 2019, berbeda dengan kegiatan sebelumnya yang dilakukan serentak dalam dua hari. Jenis sampahnya masih di dominasi oleh plastik kususnya botol air mineral, ada juga streofoam, botol kaca, tissue, dan kain.

Selain itu, menurut pria yang akrab disapa Dwi ini juga mengungkapkan, temuan-temuan sampah yang cukup variatif ini sangat menyimpang, karena jika dilihat dari fungsional gunung sebagai gentong bumi dan tempat yang cukup sakral, hal ini tidak cukup untuk meyakinkan wisatawan untuk tidak berbuat vandalism.

‘’Sebetulnya tujuan dari kegiatan ini tidak lain adalah sebagai ajang kampanye atau ajakan supaya wisatawan atau pengunjung lebih peduli terhadap lingkungan yang menjadi penopang kehidupan manusia, dan juga sebagai  ajakan untuk merubah pola perilaku menyimpang para wisatawan itu sendiri,’’ paparnya.

Kegiatan ini juga selalu bekerja sama dengan pihak terkait sejak tahun sebelumnya, namun kerja sama ini masih dirasa kurang, dan menurutnya ke depannya akan lebih meningkatkan kinerja kususnya pada bagian edukasi tentang bahaya sampahnya.

Dwi juga menekankan jika vandalisme lingkungan ini tidak cepat dihentikan dampaknya akan lebih luas lagi. Seperti terputusnya mata rantai makanan, dan punahnya populasi hewan yang ada di area tersebut.  

‘’Bukan hanya itu, dampaknya akan meluas lagi sampai pada krisis air bersih dan berpindahnya habitat hewan ke pemukiman penduduk. Bukti nyata yang sudah terjadi adalah kebakaran hutan, banjir bandang, dan longsor,’’ pungkasnya. (red)