Press ESC to close

Lontaran Nada Sumbang Dalam Gelaran TOF 2019

  • October 17, 2019

dejabar.id, tasikmalaya – Gelaran TOF dalam rangka memeriahkan hari jadi Kota Tasikmalaya ke 18 telah usai, namun nada sumbang mengenai helaran tersebut terus bergeming di permukaan.

Nada sumbang tersebut baik datang dari para pelancong luar Kota Tasikmalaya maupun para seniman dan budayawan asli Tasikmalaya. Nada sumbang tersebut berkenaan dengan tidak ada maknanya helaran TOF 2019 dan beda dari tahun tahun sebelumnya.

Nada sumbang tersebut kali ini datang dari seniman kota Tasik yakni Amang Bolon. Ia menilai, helaran TOF yang dilaksanakan di dadaha selama 3 hari sungguh tidak bermutu dan terkesan mengada-ngada.

“Kalau bikin sambal mah, ada coet nya tapi tidak ada mutunya, pan gak mungkin bisa menciptakan sambal yang lejat meski ramuannya pas, da tidak ada yang meramunya,” ungkapnya kepada dejabar, Rabu malam (16/10/19).

Ia melanjutkan, pemerintah dalam melaksanakan helaran TOF tersebut hanya memikirkan kuantitas tanpa melihat kualitas yang ingin ditonjolkan.

“Tidak ada efisiensi dan kualitas yang dipertontonkan, seperti contoh, pementasan seni kenapa milih banyak penampil tapi tidak mengena pesannya. Di sini yang asli seniman dan sudah teruji malah tidak diperhatikan dan dihargai,” tambahnya.

Amang Bolon juga menilai, tidak ada pesan yang hendak disampaikan dalam helaran TOF tersebut, juga tidak ada sesuatu yang bisa membuat bahagia masyarakat umum yang hendak datang ke gelaran tersebut.

“Tahun ini sungguh suatu kemunduran, bisa dilihat, tidak ada spot selfie seperti tahun tahun sebelumnya, tidak ada nilai seni yang bisa bikin bahagia dan penasaran khalayak ramai. Ini stand stand seperti pasar malam bahkan lebih parah dari pasar malam,” ujarnya.

Jika pasar malam masih ada hiburan seperti korsel, komedi putar dan lainnya, ini menurutnya jauh di bawah itu.

“Bedanya kalau pasar malam ada tiketnya karena memang ada pesan yang ingin disampaikan, kalau ini mah memang gratis tapi tidak ada pesannya,” katanya.

Bahkan, tambah Amang, ada karya seni hasil putra daerah yang di lua negeri seperti Malaysia mendapat apresiasi dan penghargaan, di sini jangankan dihargai, ditanyakan pun tidak dan memang tidak ada yang peduli itu karya siapa.

“Mungkin yang penting ada dan terlihat bagus tanpa ada penghargaan, padahal karyanya itu di luar negeri seperti malaysia mendapat banyak penghargaan, sungguh miris,” terangnya.

Untuk itu, dirinya sangat menyayangkan gelaran tersebut seperti tidak ada pesan yang hendak disampaikan. (Ian)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *