DEJABAR.ID, CIREBON – Taman Sari Gua Sunyaragi atau yang biasa dikenal dengan Gua Sunyaragi, menjadi salah satu destinasi wisata sejarah di Kota Cirebon. Di dalamnya, banyak sekali peninggalan yang memiliki filosofi kehidupan. Salah satunya adalah patung gajah yang terletak di dekat mulut Gua Peteng di Kompleks Gua Sunyaragi.
Sama seperti peninggalan yang ada di Gua Sunyaragi, patung gajah ini terbuat dari batu karang. Gajah tersebut tampak seperti sedang duduk, yakni dengan melipat kaki depan dan belakangnya. Tingginya sekitar seukuran tinggi orang dewasa atau 1,5 m. Belalainya dilipat ke atas seolah sedang memancungkan air dari belalainya.
Menurut Pemerhati Budaya dan Sejarah Cirebon, sekaligus pengelola Gua Sunyaragi, Jajat Sudrajat, dulunya patung gajah ini memang digunakan untuk menyemburkan air untuk menyirami putra putri keraton yang sedang mandi di situ.
Gua Sunyaragi sendiri dulunya merupakan taman air yang dikelilingi oleh danau, yang digunakan oleh keluarga Keraton untuk menyucikan diri maupun bersemedi. Dulunya, tempat di sekitar patung gajah adalah kolam pemandian, yang sering digunakan oleh keluarga Keraton.
Patung gajah tersebut, lanjut Jajat, memiliki makna dan filosofi tersendiri, selain sebagai untuk menyemburkan air. Patung gajah tersebut erat kaitannya dengan dua buah lukisan burung yang terletak di sebelah Utara patung gajah, dan satu di sebelah selatan di atas ruang panembahan.
Dalam Bahasa Cirebon, makna patung gajah dan lukisan burung tersebut memiliki pribahasa ‘kuntul umalayang anedaksi, gajah depa tanedaksi’, yang artinya ‘burung kuntul pergi meninggalkan bekas, gajah tidur tidak meninggalkan bekas’. Maknanya adalah, burung kuntul yang pergi bisa meninggalkan jejak, bisa berupa bulunya atau cakarnya. Sedangkan gajah yang tidur tidak menunjukkan kalau itu bekas gajah, karena hanya menimbulkan kubangan saja.
Jajat melanjutkan, makna dari filosofi tersebut terletak pada dua putra putri Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran, yakni Pangeran Walang Sungsang dan Nyi Mas Rara Santang. Keduanya meninggalkan bekas berupa keturunan dan keraton-keraton Islam. Sedangkan kebesaran Kerajaan Pajajaran sampai saat ini tidak diketahui bekasnya.
“Sampai saat ini belum ditemukan bekas-bekas kejayaan Kerajaan Pajajaran,” jelasnya saat ditemui Dejabar.id di Gua Sunyaragi, Jalan Brigjen Dharsono Kota Cirebon, Jumat (18/1/2019).
Jajat melanjutkan, lukisan burung di dekat patung gajah tersebut hanya dua. Padahal, anak Prabu Siliwangi ada 3. Yang satunya lagi, yakni si bungsu Kian Santang, yang konon dalam babad adalah pewaris tahta Kerajaan Pajajaran, membangun sebuah tempat yang sekarang dikenal dengan Kota Sumedang.
“Makanya hanya dua yang meninggalkan bekasnya,” jelasnya.
Menurut Jajat, semua peninggalan yang ada di Gua Sunyaragi ini tidak dibangun secara asal-asalan tanpa ada makna filosofi kehidupan. Karena, Gua Sunyaragi sendiri fungsinya adalah untuk memahami makna kehidupan itu sendiri.
“Pendiri Gua Sunyaragi tidak serta merta membuat tanpa adanya filosofi,” pungkasnya.(Jfr)
Leave a Reply