Menyelami Aksi Azwar Anas


Creatif Collaboratif. Dua kata itu menjadi kunci utama pembangunan berbasis kemanusiaan dan teknologi bersatu padu menjadikan Banyuwangi daerah yang mulai dikenal disenatero jagat.

Meskipun lewat Pariwisata, namun daerah yang terkenal angker itu kini bukan hanya urusan keindahan alam tapi urusan birokrasi pemerintahan yang berbeda. Ulah perbedaan itu gara-gara Bupati Abdullah Azwar Anas.

Ya, mari kita akui bahwa Banyuwangi menjadi salah satu nama daerah ayng cukup terkenal di Indonesia. Lantaran berada di Jawa bagian timur struktur daerah ini tak bisa lepas dari produk hasil perkebunan maupun sektor pariwisata.

Keindahan alam, budaya masyarkat menjadi perpaduan tersendiri kala diramu oleh seorang pemilik kebijakan. Ya, Bupati Azwar Anas dengan gigih telah mengusahakan Banyuwangi menjadi kabupaten yang identik dengan pariwisata. Bayangkan saja, kalender pariwisata disusun lengkap selama satu tahun. Festival unik setiap daerah tampil dan semua orang bisa berkunjung ke situ. Contohnya, Festival Kopi Banyuwangi yang makin terkenal di antara para pegiat kopi Nusantara. Selain memang hasil kopinya ekspor. Cakep.

Creative Collaboratif 10 Tahun Perjalanan Transformasi Banyuwangi, sebuah buku yang ditulis oleh Pejabat Eksekutif bernama Azwar Anas. Bupati Banyuwangi yang energik ini menekankan jalan panjang pembangunan dengan cara creatif collaboration. Ada visi, ada aksi. Begitulah ungkapan dalam buku yang ia tulis tentang jalan awal, perjalanan hingga kini transformasi Banyuwangi begitu cepat menasional.

Tetapi, Azwar Anas melakukan hal pertama yang paling menarik dari bukunya ini. Dalam strategi pengelolaan Banyuwangi hal pertama yang ia lakukan adalah melakukan reformasi birokrasi.

“Entrepreneur governent merancang kebijakan yang inovatif secara berkesinambungan. Meskipun memiliki banyak masalah sumber daya alam terbatas suara daerah akan berkembang jika ada sekelompok orang yang bekerja sama secara baik. Ditataran daerah, kepemimpinan muncul dengan semnagat wirausaha sepatutnya muncul dalam diri politisi yang terpilih menjadi kepala daerah atau anggota dewan” (hlm 47-49).

Azwar menerapkan ini dalam pemerintahan Banyuwangi sehingga kinerja visi akan sesuai dengan aksi. Pasalnya, jika element utama birokrasi tidak jalan visi pemimpin pun tidak sampai. Pantas saja, sistem transformasi elektronik digital di Banyuwangi begitu cepat diterapkan dari mulai sistem pelayanan elektronik untuk kartu tanda penduduk sampai dibuat Mall Pelayanan, jadi warga akan cepat mengurusi hal demikian.

“Setiap hari rata-rata warga mengurus berbagai macam dokumen di Mal Pelayanan Publik Banyuwangi. Sepanjang tahun 2019, jumlah pengunjung mal ini mencapai 150.148 orang dengan 384.079 dokumen dan izin yang telah diterbitkan.” (Hlm 88).

Inilah terobosan Azwar Anas dalam pengelolaan birokrasi sehingga menciptakan Banyuwangi yang terintegrasi dengan semangat Creatif Collaboratif. Para ASN sendiri, ia latih untuk bisa mengembangkan diri. Tidak hanya membeku di kantor, tetapi diberikan pengetahuan kreatif lain.

Parisata Berkelanjutan & Memberdayakan

Hampir ada 123 festival pekan pariwisata di Banyuwangi. Mulai dari kopi hingga kunjungan kawah. Sungguh fantastis. Kemudian branding Banyuwangi pun sampai ke Rusia. Sebuah high promotion yang lumayan cukup berani.

Konsep ekowisata ini memang berpihak kepada kesejahteraan masyarakat lokal. Azwar Anas mengkalim 7.52% menurun pada 2010.

Sistem pariwisata yang berkelanjutan ini seyogyanya menjadi pencerahan bagi kita semua.

Pungkit Wijaya Esais Tinggal di Bandung