Press ESC to close

Momentum HUT ke 649, Inilah Awal Mula Berdirinya Kota Cirebon

  • September 11, 2018

DEJABAR.ID, CIREBON – Kota Cirebon genap berusia 649 tahun pada 1 Muharram 1440 H, bertepatan dengan tahun baru Islam, atau 11 September 2018. Kota yang mendapatkan sebutan Kota Wali ini sudah mengalami perjalanan sejarah yang panjang, dari masa kerajaan Islam, pemerintahan kolonial Belanda, masa kemerdekaan, hingga sekarang.

Kota Cirebon ini dulunya tidaklah seramai sekarang. Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh Dejabar.id, pada abad ke 13, Pangeran Walangsungsang yang merupakan putra dari Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran, membuka hutan yang lebat dan menjadikannya sebagai pedukuhan di pinggir pantai Laut Jawa. Jumlah penduduk di pedukuhan tersebut sekitar 106 jiwa.

Berbeda dengan Prabu Siliwangi, Pangeran Walangsungsang dan adiknya Nyi Mas Rarasantang sudah beragama Islam sejak kecil. Sehingga, Pangeran Walangsungsang kerap mengajak orang-orang di pedukuhan tersebut untuk memeluk agama Islam.

Dalam kehidupan sehari-hari di pedukuhan, Pangeran Walangsungsang dan adiknya Nyi Mas Rarasantang tidak menunjukkan bahwa mereka adalah putra raja besar dari Kerajaan Pajajaran yang sangat berkuasa. Mereka berlaku sebagai rakyat biasa. Bahkan, mereka sehari-hari bekerja mencari rebon (udang kecil) di laut untuk dibuat terasi, yang airnya (ci) dibuat petis dan ampasnya dinamakan Gerage.

Dari situ, kelezatan terasi dan petis buatan Pangeran Walangsungsang dikenal di mana-mana, sehingga dapat mengundang rakyat dari beberapa negeri untuk membelinya. Bahkan, tidak sedikit diantara para pembeli itu akhirnya menetap dan seterusnya menjadi penduduk pedukuhan. Dan dengan perlahan, Pangeran Walangsungsang dapat mengislamkannya. Hingga setiap tahun, penghuni pedukuhan bertambah banyak.

Menurut Ketua Tim Kabuyutan Kesultanan Kasepuhan, Sulaiman, untuk memudahkan penduduknya memeluk agama Islam, Pangeran Walangsungsang berupaya mempersatukan ajaran agama nenek moyang dengan ajaran Islam, demi berkembangnya agama Islam di tanah Jawa. Dan kedua ajaran yang dipersatukan itu terkenal dengan nama Ilmu Caruban.

“Dengan ilmu Caruban itulah nenek moyang kita dahulu merasa tidak dipaksa menjadi pemeluk agama Islam yang baik,” jelasnya, Selasa (11/9/2018).

Kemudian, kelezatan petis dan terasi Pangeran Walangsungsang terdengar hingga ke telinga Prabu Cakraningrat, Raja Kerajaan Galuh. Sang prabu pun meminta Pangeran Walangsungsang agar mengirimkannya setiap bulan.

Karena pedukuhan tersebut berada di dalam wilayah Kerajaan Galuh dan sudah berjumlah lebih dari 1000 jiwa, Prabu Cakraningrat memerintahkan Pangeran Walangsungsang agar memberi nama pada pedukuhan itu dan mengangkat seorang kuwu. Akhirnya, sebagai kepala permukiman baru, diangkatlah Ki Gedeng Alang-Alang dengan gelar Kuwu Cerbon.

Kemudian, dengan restu Syekh Datul Kahfi dan para wali lainnya pada tanggal 1 Asyura/Muharram tahun 791 H atau pada tahun 1389 M, pedukuhan itu diberi nama Cirebon yang berasal dari Cairebon. Pangeran Walangsungsang pun ditunjuk sebagai Adipati Cirebon dengan gelar Cakrabumi.

“Dari tanggal itulah, ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Cirebon,” tutur Sulaiman.

Dalam perkembangannya, Pangeran Walangsungsang tidak mengirimkan upeti lagi kepada Raja Galuh. Oleh karena itu, Raja Galuh mengirimkan utusan ke Cirebon untuk menanyakan upeti rebon dan terasi ke Adipati Cirebon. Namun ternyata, Adipati Cirebon berhasil meyakinkan para utusan atas kemerdekaan wilayah Cirebon.

Dengan demikian berdirilah daerah otonomi baru di Cirebon dengan Pangeran Walangsungsang yang menjabat sebagai adipati dengan gelar Cakrabuana. Berdirinya daerah Cirebon menandai diawalinya Kerajaan Islam Cirebon dengan pelabuhan Muara Jati yang aktivitasnya berkembang sampai kawasan Asia Tenggara.

“Dalam administrasi pemerintahan, Cirebon merupakan 2 daerah tingkat II sekaligus, yakni Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon,” pungkasnya. (jfr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *