Paguyuban Pasundan dan Forum Masyarakat Jabar Dukung MWA Tak Di Intervensi


Adanya desakan dari segilintir masyarakat yang menginginkan salah satu calon Rektor Universitas Padjadjaran, Obsatar Sinaga atau Prof Obi, untuk mundur dari kepesertaan pemilihan rektor (pilrek) Unpad 2019-2024 mendapatkan reaksi dari berbagai kalangan. Diantaranya adalah Paguyuban Pasundan dan Forum Masyarakat Jawa Barat. Mereka menilai, protes segelintir orang yang mengatasnamakan masyarakat Jawa Barat tidak mencerminkan masyarakat Jawa Barat sesungguhnya. Terlebih alasan permintaan mereka tidak berdasar dan sangat privasi dan tidak bisa dibuktikan kasus kekerasan rumah tangga Prof. Obi.
Dari beberapa sumber pemberitaan, Obi telah memberikan bukti-bukti serta klarifikasi tehadap tuduhan tersebut.
Paguyuban Pasundan dan Forum Masyarakat Jabar menganggap permintaan agar Prof Obi mengundurkan diri ada bentuk intervensi dan mengacaukan pilrek Unpad. Paguyuban Pasundan dan Forum Masyarakat Jabar pun langsung melakukan audiensi dengan MWA (Majelis Wali Amanat) Unpad, Jumat siang (12/10/2018), di sekretariat MWA Unpad Jalan Cimandiri, Kota Bandung.
Menurut Ketua Paguyuban Pasundan, Didi Tumudzi, lahirnya Unpad di tahun 1957 tidak lepas dari peran Ketua Paguyuban Pasundan waktu itu, Suradiradja, yang menjadi salah satu panitia pembentukan Unpad. Menurutnya, dengan demikian, ada irisan kesejarahan antara Unpad dengan Paguyuban Pasundan. Oleh karena itu, pihaknya ingin membantu sekecil apapun peran-peran terhadap nama besar Unpad.
Berkaitan dengan pemilihan Rektor Unpad, Didi membacakan surat pernyataan mengenai adanya intervensi terhadap salah satu calon Rektor Unpad, yang dianggap tidak layak menjadi pucuk pimpinan tertinggi di Universitas Padjadjaran. Pada kesempatan tersebut, Didi membacakan surat pernyataan Paguyuban Pasundan beserta orsasi-orsasi, komunitas dan perorangan yang tergabung dalam Forum Masyarakat Jabar terkait dengan proses pemilihan Rektor Unpad, menyatakan;
Mendukukung setiap keputusan yang di keluarkan MWA Unpad yang kami yakini sebagai hasil kajian yang mendalam; Kami percaya bahwa MWA Unpad adalah majelis yang terhormat berwibawa dan amanah tidak akan mudah terintervensi baik pikiran atau tindakan oleh pihak manapun; Kami yakin MWA Unpad akan melanjutkan proses ke tahap selanjutnya, mengingat waktu biaya tenaga dan pikiran yang sudah banyak tercurahkan untuk kegiatan ini.
Lanjut Didi, apabila ada orang-orang yang berusaha mengorek-ngorek kesalahan orang lain, menurutnya, setiap manusia tidak akan selamanya benar karena buka malaikat serta tidak selamanya salah karena bukan setan.
“Kesalahan itu ada yang dibukakan oleh Alloh SWT, ada juga yang ditutupi. Mungkin karena Alloh menutup aib-aib kita, kita jadi merasa benar, terhormat, hebat,” tuturnya.
Pada kesempatan yang sama, Uu Rukmana menyayangkan gonjang-ganjing pada pemilihan Rektor Unpad.
“Acan ge pemilihan geus ribut. Sebetulnya Prof Obi diuntungkan karena dipikasieun (ditakuti). Prof Obi ditakuti karena diperkirakan menang dalam pemilihan Rektor Unpad ini,” kata Uu di depan awak media.
“Pokoknya begini saja, sekarang kita serahkan saja kepada MWA Unpad yang merupakan lembaga terhormat di Unpad. Tapi kalau ada yang mengganggu MWA Unpad urusanna jeung urang. Do’a bagi MWA pokoknya sukses. Bukan membela satu pihak, tetapi kita ingin Unpad maju,” imbuh Uu.
Menanggapi hal itu di tempat yang sama Sekretaris MWA Prof Erri Megantara, memaparkan bahwa MWA akan melaksanakan tugasnya sebaik-baiknya. Sesuai dengan yang diharapkan oleh berbagai pihak, termasuk dari GWPU yang sebelumnya datang (Jumat pagi, 12/10/2018).
“Berbagai masukan akan memperkaya informasi bagi anggota MWA, dalam menentukan Rektor Unpad yang akan datang,” katanya.
Selebihnya, apabila menilik dari serangkaian proses pemilihan dan rapat pleno yang berlangsung bulan lalu, dari delapan calon Rektor Unpad kini sudah mengerucut menjadi tiga calon.
Ketiga calon tersebut yaitu Dr Aldrin Herwany (Fakultas Ekonomi dan Bisnis) meraih 7 suara, Prof Atip Latipulhayat (Fakultas Hukum) meraih 6 suara, dan Prof Obsatar Sinaga (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) unggul dengan raihan 13 suara. Pemilihannya akan digelar pada 27 Oktober 2018