Press ESC to close

Peringati Maulid Nabi, Madrasah Rumi Usung Tema "Meneladani Cinta Rosulullah SAW"

  • November 19, 2019

Dejabar.id, Bandung – Di momen kelahiran Rosul, Madrasah Rumi kembali menggelar acara spesial untuk memperingati maulid nabi Muhammad SAW dengan mengusung tema “Meneladani Cinta Rosulallah SAW” di Gedung Student Center, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Senin (18/11/19).

Bambang Q Anees sebagai pemandu acara Madrasah Rumi mengungkapkan, selain untuk memperingati Nabi, acara ini adalah sebuah refleksi untuk melihat fenomena negeri serta dunia pendidikan masa kini yang terlalu terfokus kepada angka-angka semata, dan sudah sangat kekurangan cinta.

“Negeri dan lembaga pendidikan telah kehilangan cinta, karena sibuk mengejar pertumbuhan angka-angka. Pada bulan maulid ini saatnya semua orang belajar mencintai manusia, cinta Muhammad Al Musthafa. Karena sehebat apapun prestasi kita, semuanya hanya debu di jalan yang pernah ditempuh Muhammad,” papar Bambang kepada Dejabar.id.

Salah seorang musisi solo, Daminati Mojo mengapresiasi acara Madarash Rumi ini. Ia mengatakan bahwa acaranya sangat luar biasa, sederhana namun begitu menakjubkan, dan misterius.

Pria yang akrab disapa Mojo ini juga membawakan salah satu lagu yang bertema cinta Rosul dengan judul yang diramu kekinian yakni “Saranghaeyoo Nabi Muhammad SAW.”

“Lagu ini bercerita tetang kerinduan hati yang ingin terbaca oleh pujaan hati, yaitu Nabi, pertanyaan bagaimana jika kerinduan ini tak terbaca olehnya,”? ungkap Mojo.

Selain itu, di depan jamaah, salah satu penyair Jawa Barat yang kini mengajar di UIN Sunan Gunung Djati, Bunyamin Fasya berkisah tentang seorang pengemis buta yahudi yang selalu disuapi dan diberi makan oleh Nabi.

“Dalam kisah itu, bahwa cinta nabi sangatlah luas dan luar biasa, menembus batas-btas dan tak melihat latar belakang orang, beliau selalu menebar cinta dan memberi pertolongan kepada siapapun yang membutuhkan,” tutur Bunyamin.

Selain penampilan musik dan pembacaan kisah nabi, ada juga pembacaan puisi yang dibacakan oleh Ardi Bachtiar dari Balai Bahasa Jawa Barat. Dalam puisinya yang bertajuk “Jampi Pangsi,” dia menyampaikan pesan yang mendalam ikhwal perjalanan sebagai manusia unik.

“Unik dalam segala aspek. Unik dalam aspek kadar keimanan, kadar keislaman, kadar pengetahuan, kadar kekayaan, dst. Dengan keunikan itu, seorang muslim atau mukmin menapaki jalan kehidupan. Jalan kehidupan menuju Tuhan yang telah disiapkan oleh para nabi dan pewaris para nabi,” cetusnya.

Menariknya, hampir di setiap acara Madrasah Rumi, ada yang selalu ditunggu-tunggu dan kerap menjadi primadona di atas panggung karena sihir lagu-lagunya yang memukau, seorang musisi yang tak asing lagi terutama di Bandung, yakni Panji Sakti. Ia membawakan dua lagu yang bertajuk “Sekuntum Bunga Kemboja” dan “Tafsir Cinta.”

Dalam lagu “Sekuntum Bunga Kemboja,” ia bicara tentang bagaimana seseorang yang tidak mengeluhkan kesusahan yang dia hadapi, segala ujian yang dihadapi tak lebih karena rasa cinta Tuhan pada hamba-Nya.

“Mencontoh sikap rasul yang tidak pernah mengeluhkan kesusahpayahan yang beliau hadapi karena beliau percaya yang Tuhan hidangkan tidak mungkin buruk,” terangnya.

Selanjutnya, lagu kedua yang bertajuk “Tafsir Cinta” menurutnya, lagu ini bicara tentang seorang hamba yang memohon agar Tuhan memelihara air matanya, dia tidak peduli jika harus bersedih sepanjang hidupnya jika kesedihan itu bisa menjadi jalan mendekatkan dirinya pada Tuhan.

“Rasul yang sudah maksum tetap saja shalat hingga kakinya bengkak dan sering menangis dalam shalatnya,” pungkasnya.

Acara spesial Madrasah Rumi ini bekerjasama dengan HMJ Bahasa dan Sastra Inggris dan Masyarakat Aqidah Filsafat UIN Bandung. Dan dimeriahkan oleh para musisi dan penampil lainnya seperti Opick Rozensky, Lamunan Surti, Ust. Hilmi Fuad, Ali Menyanyi, Lilis Sulastri, Yayan Katho, Ust. Rosihon Fahmi. (Red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *