Press ESC to close

Sentra Batik Trusmi Cirebon Mulai Sepi

  • April 4, 2019

DEJABAR.ID, CIREBON – Kawasan Sentra Batik Trusmi yang terletak di Jalan Otto Iskandardinata, Plered, Kabupaten Cirebon, merupakan salah satu pusat penjualan batik. Kawasan ini digunakan untuk menampung para pedagang dan pengrajin batik di Plered dan sekitarnya. Namun sayang, kawasan ini sangat sepi pembeli, dan kalah saing dengan kawasan Batik Trusmi di Jalan Syekh Datuk Kahfi, Kabupaten Cirebon.
Hal tersebut membuat beberapa kios tutup. Bahkan kalaupun ada yang buka, yang dipajang dan dijual hanyalah beberapa potong pakaian saja. Para pedagang pun hanya pasrah dengan hal ini, seperti yang dialami oleh salah satu pedagang batik bernama Veni (44) ini.
Veni membuka kios batiknya dengan nama Batik Khansa. Di situ terdapat beberapa potong kain batik maupun yang sudah jadi. Namun, bisa dilihat jika yang ada di kiosnya tersebut sangatlah sedikit. Bahkan, kios-kios yang ada di kiri dan kanan kiosnya sudah tutup.
Veni mengakui, kawasan Sentra Batik Trusmi ini kurang promosi. Sehingga, banyak pedagang batik yang tutup kiosnya. Adapun yang masih bertahan hanya beberapa kios yang ada di depan saja. Kios-kios yang ada di belakang terpaksa tutup karena jarang dikunjungi oleh pembeli. Kios milik Veni sendiri merupakan salah satu kios yang ada di belakang yang masih bertahan hingga saat ini.
“Kalau yang buka kios di depan masih mending, dibanding yang buka di belakang ini,” jelasnya saat ditemui awak media di kawasan Sentra Batik Trusmi, Kamis (4/4/2019).
Veni yang sudah 2 tahun membuka kios batik di Sentra Batik Trusmi ini menjelaskan, pada awal-awal tempat ini diresmikan tahun 2015 lalu, sempat ramai. Apalagi, di bagian belakang kawasan ini ada sentra kuliner. Sehingga, orang-orang bukan hanya belanja batik saja, tetapi juga membeli kuliner yang disediakan. Tempat ini bahkan digadang-gadang akan menjadi pusat penjualan batik terbesar di Cirebon.
Namun semakin ke sini, tempat-tempat kuliner yang ada di belakang mulai tutup. Kios-kios batik pun ikutan tutup karena mulai sepinya pembeli. Kini hanya beberapa kuliner saja yang bertahan, itu pun di depan dekat parkiran. Sedangkan di bagian belakang sudah sepi, bahkan terkesan seperti kebun.
Meskipun Veni hanya sendirian membuka kiosnya di belakang, namun pembeli masih ada saja. Sehari bisa menjual satu hingga dua potong pakaian batik. Itu pun pembelinya dari pembeli pasar yang kebetulan lewat ke sentra ini. Karena, di bagian belakang terdapat pintu keluar yang tembus ke pasar tradisional darurat. Sehingga, jika ada pengunjung pasar yang keluar lewat pintu tersebut, maka pengunjung tersebut akan mampir dulu ke kiosnya.
“Kalau di depan bisa jual sampai 5 potong. Tapi kalau di belakang bisa menjual satu potong saja sudah untung-untungan,” tuturnya.
Untuk kiosnya sendiri, Veni menyewa dengan membayar pertahunnya Rp 500 ribu. Selain itu, dia juga harus membayar Rp 45 ribu perbulannya untuk keamanan dan kebersihan. Lalu, dia juga harus membayar Rp 4000 hingga Rp 6000 per harinya.
Dengan sepinya kawasan Sentra Batik Trusmi ini, Veni hanya bisa berharap agar bisa ramai lagi seperti dulu. Dia juga ingin tempat-tempat kuliner yang ada di belakang bisa diisi lagi, sehingga semakin banyak orang yang datang bukan hanya di bagian depan saja, melainkan juga di belakang.
“Kulinernya bisa dihidupkan kembali supaya bisa ramai kembali,” pungkasnya.(Jfr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *