Sinopsis Creative Space Hadirkan ‘Pamali’ di Tanpa Koma 4.0


DEJABAR.ID-Perjalanan manusia bisa jadi adalah pengalaman spiritual, dan semua perjalanan manusia adalah pengalaman logical, Spiritual ataupun Logical hanyalah kacamata dan ” mata ” tanpa ” kacamata ” tetap bisa melihat, dan lebih dalam menjadi gerbang untuk ” merasakan ” .
Jika ” kacamata ” itu kita buka, Seni bukan hanya sekedar ekspresi seperti sedih ataupun gembira, lebih dalam dari itu seni bisa jadi sebuah kemampuan. Salah satunya adalah kemampuan untuk bertahan hidup dalam hal material ataupun imaterial.
Edrike Joosensia , perempuan yang masih ada” Al bantani “-nya, memfokuskan ” Seni Rupa ” sebagai senjata untuk ia bertahan hidup, jurus-jurusnya selalu diaplikasikan terhadap ” arang ” dan ” kertas ” , yang kali ini waktu dan ruang mengijinkan ia untuk menamakan ” arang ” dan ” kertas ” itu dengan nama (Samara).
dalam ruang dan waktu yang diberinama ” Pamali ” , Edrike akan memamerkan sebuah karya seni rupa bernama ” Samara” ( seni = kemampuan) karya itu akan dipamerkan selama 3 hari , 13-15 Desember 2018 ( waktu manusia). Manusia adalah makhluk sosial, tidak bisa hidup sendiri, begitupun untuk bertahan hidup, manusia tidak bisa bertahan hidup secara mandiri.
Jarwo, Sukma, Hasna, Devidya, dan Agus adalah berbagai semesta yang dalam Ruang ” Pamali ” akan ada dalam frekuensi yang sama, frekuensi ” seni ” , sama – sama bersama untuk bertahan hidup.
Lain dari itu, menurut Edrike, Pamali adalah eksperimen, karena sebagai pegiat seni selalu lebih dekat pada hal yang sensitif. Karya lahir dari perasaan, kalau dilogikakan menurutnya adalah frekuensi.
“Sebenarnya salah satu faktor seniman melahirkan karena mereka mencari perjalanannya ke Tuhan, karena semua rasa itu dari Tuhan, alfa dan omega. Bahasa seniman itu beda dengan bahasa umum,” ujarnya kepada Dejabar, Senin (10/12/2018).
Sementara menurut Jarwo, Pamali adalah kebudayaan sunda yang mulai mengikis di kalangan milenial. Sebab itu, mereka ingin mengingatkan kepada pemuda saat ini melalui visual dan bunyi (musik-red) Pamali adalah sebuah konsep leluhur yang ditawarkan untuk melestarikan keseimbangan alam, juga diri.
“Kita nyari kesamaannya spirit dari kita, mengerucutnya si Pamali itu dari seni visual dan seni musik. Secara teknis pertunjukkan alurnya untuk pertama kita mencoba menetralisirkan bunyi-bunyian dengan tim musik karena sangat sulit menggabungkan antara gambar dan musik, jauh banget, orang awam gak bakal kepikiran,” ujarnya.(red)