DEJABAR.ID, PANGANDARAN-Sebagian nelayan di Pantai Pangandaran, Jawa Barat, masih menggunakan alat tangkap ikan yang terbilang sudah kuno yang terkenal dengan sebutan ‘arad’. Namun, Praktik menangkap ikan menggunakan jaring arad hingga kini masih bertahan di Pangandaran.
Pantauan Dejabar.id, sebagian nelayan yang menggunakan jaring arad mengeluhkan semakin langkanya tangkapan ikan baik Pantai Timur maupun Pantai Barat Pangandaran.
Menurut salah seorang pemilik alat jaring arad, Akik Ratim (46), warga Kecamatan Pangandaran, dirinya sudah menebarkan jaring arad miliknya sebanyak dua kali pada hari ini.
“Saat ini tangkapan ikan memang terbilang langka, ini saja sudah dua kali tebar jaring, kami hanya mendapatkan tiga ikan layur kilogram, ikan teri lima kilogram, cumi satu kilogram, ikan kakapasan dan pepetek,” keluhnya kepada Dejabar.id saat ditemui di Pantai Barat Pangandaran, Jum’at (19/10/2018).
Ratim mengaku dalam sehari tebar jaring paling banyak delapan kali. Namun, Karena tangkapan ikannya minim, dirinya hanya mampu untuk mengganti modal atau bekal saja.
“Kalau hasil tangkapan ikan seperti ini terus, paling hanya bisa mengembalikan modal saja, untuk ganti bensin, makan dan rokok anak buah saja, sedangkan untuk pengganti keringat (tenaga) tidak akan kebagian,” kata Ratim.
Pratik tangkap ikan yang menggunakan jaring arad, menurut Ratim harus melibatkan anak buah sebanyak 15 orang untuk menarik Jaring arad yang memiliki panjang hampir 100 meter.
“Jaring arad ditebar sekitar 300 meter dari bibir ke tengah laut. Nantinya 15 orang itu akan menarik jaring tersebut sampai kedaratan,” paparnya.
Salah satu kuli penarik Jaring arad, Topik Wahyudin (23), warga Desa Purbahayu Kecamatan Pangandaran mengaku bekerja sebagai penarik jaring arad hanya batu loncatan atau beralih profesi saja.
“Sebelumnya saya bekerja menyadap air nira kelapa. Karena lagi musim kemarau yang cukup panjang air nira kelapa pun sulit didapatkan. Bahkan pohon kelapa banyak yang kering,”akunya.
“Namun, ketika saya beralih hasil tangkapan ikan lagi minim, jadi penghasilannya minim sekali yaitu Rp30 ribu perhari,” ungkap Topik.
Topik mengungkapkan, penghasilan dilaut memang tidak bisa diprediksi. Kadang kalau lagi banyak ikan anak buah bisa kebagian Rp500 sampai Rp1 juta perorang.
“Sistem pembagian hasil penjualan ikan bagi nelayan jaring arad itu dibagi dua antara pemilik alat dan pekerja. Contohnya, dapat Rp1 juta kemudian dibagi dua pemilik alat Rp500 ribu dan pekerja Rp500 ribu untuk 15 orang, jadi perorang hanya ke bagian Rp33 ribu,” pungkasnya.(dry)
Leave a Reply