Kurang Promosi dan Generasi Penerus, Seni Lukis di Cirebon Alami Kemunduran


CIREBON – Perkembangan seni rupa seperti seni lukis, terutama di Cirebon, saat ini sedang mengalami kemunduran. Hal tersebut dikarenakan kurangnya promosi bagi para seniman di Cirebon. Bahkan, regenerasinya mulai kurang.

Hal tersebut diungkapkan oleh salah satu seniman lukis asal Cirebon, Wong Artha, saat ditemui awak media di galeri lukisnya di Cirebon Galeri, Kedawung, Kabupaten Cirebon, Senin (19/11/2018).

“Sebagai pelukis asal Cirebon, saya sendiri merasa ada kemunduran untuk seni,” jelasnya.

Menurut Wong Artha, Cirebon dulu sangat dikenal sebagai lukisan kacanya, yakni karya lukis di atas media sebuah kaca. Para seniman berlomba-lomba membuat lukisan kaca yang unik. Lukisan kaca di Cirebon sendiri menjadi barometer bagi seniman-seniman luar, seperti di Jakarta.

Lukisan kaca di Cirebon mencapai puncak kejayaannya pada tahun 2000-an. Saat itu, lanjut Wong Artha, Cirebon menjadi sentra kesenian lukis kaca. Setiap bulannya pasti ada pameran lukisan kaca, baik itu di Cirebon maupun di daerah lainnya.

“Saya sendiri sempat mengalaminya, banyak mengikuti pameran-pameran lukisan kaca,” tuturnya.

Namun, lanjut Wong Artha, ketika memasuki tahun 2007, kesenian lukis kaca mulai mengalami kemunduran. Hal tersebut dikarenakan kaca merupakan bahan yang mudah pecah dan tidak mudah untuk dibawa ke mana-mana. Apalagi jika ukurannya cukup besar.

Wing Artha menceritakan, lukisan kaca hasil karyanya yang dikirim ke berbagai daerah di Indonesia, sempat mengalami pecah beberapa kali. Hal tersebut dikarenakan cara pengemasan untuk pengirimannya kurang menjamin. Sehingga, membuat para seniman beralih dengan menggunakan kanvas.

Padahal, menurut Wong Artha, lukisan kaca lebih murah dibandingkan dengan lukisan kanvas. Keduanya memiliki selisih hampir setengahnya harga. Meskipun begitu, lukisan kaca masih bisa dipesan, walaupun hanya sebatas souvenir di hotel-hotel atau pemerintah.

Wong Artha mengakui, dirinya yang sempat menggeluti seni lukis kaca, berubah menjadi seni lukis kanvas. Selain lebih praktis dalam pengiriman, juga mudah merawatnya. Meskipun begitu, dirinya masih menekuni seni lukis kaca.

“Saat ini para pelukis kaca sudah mulai berkurang dan tidak ada regenerasi. Yang tadinya ada sekitar 50an, sekarang tinggal 10. Semuanya sudah sepuh,” tuturnya.

Menurut Wong Artha, kesenian lukis saat ini hanya dimanfaatkan pada momen-momen tertentu saja. Dirinya mengakui, antara seniman dan pemerintah masih kurang bentuk kepeduliannya. Sehingga, para seniman tidak begitu dilirik oleh pemerintahan.

Saat ini, di Cirebon ada sekitar 400an seniman lukis. Wong Artha berpikir bagaimana caranya mengembangkan kesenian lukis, terutama untuk di Cirebon sendiri. Apalagi, dirinya mendapat amanat dari seorang maestro seni lukis di Cirebon.

“Kita harus mengadakan kegiatan yang bisa memacu semangat para seniman untuk bisa berkarya kembali,” pungkasnya.(Jfr)