Mitos Lawang Saketeng di Bukit Garawuan Kabupaten Cirebon, Terdapat Kerajaan Tak Kasat Mata


584
584 points

DEJABAR.ID, CIREBON – Lawang Saketeng yang terletak di Bukit Garawuan, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, merupakan suatu kawasan berupa perbukitan yang terdiri dari pesawahan dan pepohonan. Kawasan ini berada di tiga desa, yaitu Desa Munjul, Belawa, dan Cipeujeuh Kulon. Kawasan ini juga merupakan perbatasan antara 2 kecamatan, yakni Kecamatan Astanajapura dan Lemahabang.

Sekilas, mungkin kawasan ini tampak biasa saja. Namun menurut cerita masyarakat, konon katanya Lawang Saketeng merupakan sebuah kerajaan yang dihuni oleh makhluk tak kasat mata. Mitos ini bahkan kerap diputar di radio-radio Cirebon era tahun 60 hingga 70an, dalam bentuk cerita Pantun Si Beton.

Menurut Saryam (67), salah seorang petani mangga di Kecamatan Lemahabang, mitos soal Lawang Saketeng di Garawuan sudah ada sejak dahulu, dan secara turun-temurun tidak berubah.

“Cerita Lawang Saketeng sudah dari dulu ada, yaitu adanya sebuah kerajaan yang dihuni oleh mahluk tidak terlihat,” jelasnya, Jumat (14/6/2019).

Saryam menceritakan, Lawang Saketeng sendiri mempunyai makna, yang terdiri dari Lawang yang artinya pintu atau gerbang, dan Saketeng yang artinya sejumlah uang. Sehingga, konon cerita para leluhur dahulu, jika orang mau masuk dan melewati Lawang Saketeng di Garawuan, maka harus membayar sejumlah kompensasi sebesar saketeng.

“Kalau ada yang mau melintasi, harus membayar kompensasi, sejenis pajak masuk,” jelasnya.

Saryam melanjutkan, terdapat seorang warga yang pernah mengalami kejadian aneh, yang tiba-tiba bertemu banyak orang dan melihat barang-barang yang terbuat dari emas di sekeliling bangunan yang mirip keraton kerajaan.

“Dulu ada tetangga kami yang pernah mengalami kejadian aneh, katanya dia telah masuk di Garawuan, tapi dia melihat banyak orang dan banyak barang yang terbuat dari emas seperti beliung emas, perkakas rumah tangga, dan semuanya dari emas di sekitar keraton,” tuturnya.

Beruntung, lanjutnya, tetangganya tersebut bisa kembali pulang ke rumah, karena katanya dia disuruh pulang oleh orang-orang di sana agar kembali ke keluarganya.

Hal senada diungkapkan oleh warga lainnya, Arin Heryanto (42). Dirinya menambahkan, besaran Saketeng yang harus dikeluarkan tersebut sulit diterangkan pada saat ini. Karena, mata uang sekarang berbeda dalam Rupiah. Yang jelas, jika melewati Lawang Saketeng harus membayar sejumlah uang seperti saat masuk jalan tol pada saat ini.

“Berarti konsep membayar retribusi sudah ada dari zaman dulu, untuk melewati jalan atau masuk pintu gerbang ke dalam suatu wilayah,” jelasnya.

Lebih lanjut, Arin mengatakan bukan satu atau dua orang yang masuk ke sini dan tersesat hampir seharian. Mereka merasa berada di pemukiman dengan banyak bangunan megah. Padahal, Garawuan yang luasnya hanya 10 hektar merupakan perbukitan lahan pertanian tanpa pemukiman.

“Padahal Garawuan hanya pesawahan dan pepohonan saja, tidak ada pemukiman warga di sana,” pungasnya.(Jfr)


Like it? Share with your friends!

584
584 points