Press ESC to close

Pedagang Kaladama Ini Hasilkan Rp300 Ribu Hingga Rp500 Ribu Perhari

  • February 8, 2019

DEJABAR.ID, CIREBON – Kaladama atau tahu gejrotnya masyarakat Cirebon Timur, memang menjadi kuliner yang khas dan favorit masyarakat. Banyak masyarakat yang memburu kuliner khas satu ini di daerah Cirebon Timur, khususnya wilayah Astanajapura, Lemahabang, dan Karangwareng. Namun sayangnya, para pedagang kaladama mulai jarang terlihat. Karena, mereka berganti memilih profesi yang lebih menjanjikan.
Hal tersebut menjadi peluang bagi Marta (49), warga Cipeujeuh Wetan, Sindang Laut, Kecamatan Lemahabang Kabupaten Cirebon, untuk mengadu nasib berjualan kaladama. Dan hal tersebut sudah berjalan selama 10 tahun lamanya.
Marta menceritakan, awalnya dia berprofesi sebagai tukang becak. Kemudian, dia beralih profesi sebagai pedagang kaladama atau kupat tahu, karena banyak masyarakat yang membutuhkan kuliner satu tersebut. Sejak itu, dia mulai mantap menjalankan profesi barunya.
Selama 9 tahun, Marta berjualan keliling dengan menggunakan gerobaknya, dari satu desa ke desa lain. Namun, melihat peluang berjualan menetap lebih besar, apalagi lokasinya di depan kawasan sekolah, maka dia memilih menetap sejak setahun lalu.
“Lebih enak di sini, yang beli juga banyak,” jelasnya saat ditemui Dejabar.id di lapaknya yang berada di Jalan Raya Lemahabang, Cipeujeuh Wetan, Sindang Laut, tepatnya di depan SMK Negeri 1 Lemahabang, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, Jumat (8/2/2019).
Marta mengaku, tidak sulit untuk mendapatkan bahan baku berjualan kaladama. Untuk tahunya, dia mengambil dari pabrik tahu yang berada di Cipeujeuh. Ketupatnya juga membeli dari produsen ketupat. Hanya air kecap manis gurih saja yang dia buat sendiri.
Marta mengaku, dari mulai berjualan pukul 14.00 WIB hingga habis, dia mendapatkan keuntungan hingga Rp 300 ribu hingga Rp500 ribu. Hal tersebut menunjukkan kebutuhan masyarakat akan kaladama masih tinggi, sedangkan pedagangnya sudah mulai berkurang.
Kaladama sendiri, lanjut Marta, berbeda dengan tahu gejrot yang ada di Kota Cirebon. Yang menjadi perbedaan adalah terletak di ketupatnya. Sehingga, memakan satu porsi kaladama saja susah membuat perut kenyang.
“Rasanya juga berbeda dengan yang ada di Kota Cirebon. Lebih pedas rasanya lebih nikmat,” pungkasnya.(Jfr)
 
 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *