Press ESC to close

Peringati Hari Buku Nasional, Berikut Sederet Novel Indonesia yang Pernah Tuai Kontroversi

  • May 17, 2019

DEJABAR.ID – Bukan hanya dunia internasional yang memperingati hari Buku Sedunia setiap 23 April. Indonesia juga punya perayaan serupa. Tanggal 17 Mei tiap tahunnya diperingati sebagai hari Buku Nasional.
Pemilihan tanggal 17 Mei sebagai hari Buku Nasional bertalian erat dengan Perpustakaan Nasional. Pasalnya, gedung pertama Perpustakaan Nasional berdiri pada tanggal 17 Mei 1980. Ketika itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef mencanangkan berdirinya Perpusnas pertama di Indonesia yang berlokasi di Jakarta.
Tak sedikit penulis dari Indonesia yang melahirkan buku-buku yang mendunia, termasuk karya sastra. Kendati demikian, beberapa karya sastra terbit dibarengi kontroversi.
Tak hanya di luar negeri, sejumlah karya sastra buatan anak negeri pun ada yang pernah menuai kontroversi. Khususnya novel-novel yang isinya dianggap menyinggung pihak tertentu.
Berikut ini kami tampilkan novel karya pengarang Indonesia yang peredarannya sempat diwarnai kontroversi.

  1. Belenggu – Armijn Pane


Kisah fiksi yang ditulis oleh sastrawan angkatan Pujangga Baru ini disebut-sebut sebagai novel psikologis pertama oleh pengarang Indonesia. Belenggu menceritakan konflik cinta segitiga antara tokoh-tokoh yang terjebak di antara gesekan pemikiran modern dan nilai-nilai tradisional.
Ketika diterbitkan, Belenggu mengundang pendapat pro dan kontra karena dituding menampilkan hal-hal tabu seperti prostitusi dan perselingkuhan. Walaupun begitu, novel ini juga dianggap menggambarkan konflik sehari-hari yang manusiawi pada masa itu.
 

  1. Tetralogi Buru – Pramoedya Ananta Toer

 
Terdiri dari empat novel karangan Pramoedya Ananta Toer, bekas tahanan politik G 30 S/PKI pada masa Orde Baru. Tema utamanya adalah nasionalisme pada masa Kebangkitan Nasional.
Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa, dua volume dalam tetralogi Buru sempat dilarang beredar oleh pemerintah karena dianggap mengusung ide-de Marxisme-Leninisme. Penganugerahan.
 

  1. Atheis – Achdiat Miraharja

 
Novel ini menyoroti pergulatan batin Hasan, seorang muslim yang terpengaruh ide-ide Marxisme-Leninisme dari sahabatnya.
Atheis menuai kecaman dari dua pihak sekaligus. Golongan agama mencibir karakter Hasan dan doktrin-doktrin agama yang tidak dibahas secara mendalam dalam novel. Sementara tokoh-tokoh Marxis dan Anarkis menganggap ide-ide Marx serta Nietzsche dalam novel tersebut disalahartikan.
 

  1. Incest – I Wayan Artika

 
Novel ini menjadi kontroversi karena mengecam habis-habisan tradisi pengasingan dan pernikahan kembar buncing (bayi kembar beda jenis kelamin) dalam budaya tradisional Bali.
Karena Artika menggunakan desa kelahirannya, Batungsel sebagai latar cerita, ia pun mendapat peringatan keras dari para tetua desa yang berakhir dengan pengusirannya dari desa adat.
 

  1. Tenggelamnya Kapal van der Wijck – Hamka

 
Kalau novel yang satu ini menuai kontroversi karena kemiripan ceritanya dengan Under The Limes karangan Jean-Baptiste Alphonse Karr yang diterjemahkan oleh Lutfi al-Manfaluti dengan judul Magdalena.
Hamka dituding menjiplak novel asing tersebut. Sementara beberapa sastrawan mengklaim kalau novel tersebut merupakan karya orisinal karena latar budaya Minang yang konsisten dengan karya-karya Hamka sebelumnya. (red/merdeka)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *