Press ESC to close

Situs Makam Jabang Bayi, Makam yang Kerap Didatangi Ketika Seseorang Punya Keinginan

  • June 27, 2019

DEJABAR.ID, CIREBON – Jika memasuki wilayah Kesambi Kota Cirebon, maka akan ditemukan sebuah makam yang ukurannya kecil, yang ada di tempat pemakaman umum. Makam tersebut terletak di dalam sebuah bangunan kecil, dan kerap dikunjungi oleh para peziarah. Oleh masyarakat Cirebon, makam tersebut dinamakan Makam Jabang Bayi, karena yang dikuburkan di makam tersebut berupa jabang bayi.

Menurut penjaga sekaligus juri kunci Makam Jabang Bayi, Kani, Situs Makam Jabang Bayi merupakan situs yang kerap dikunjungi oleh peziarah, ketika mempunyai tujuan tertentu. Seperti ketika hendak melamar ke sebuah perusahaan, mencari jodoh, menjadi pejabat dan lain-lain. Tradisi tersebut masih tetap ada sampai sekarang.

“Biasanya yang datang ke sini orang-orang dari luar Cirebon,” jelasnya saat ditemui Dejabar.id di Situs Makam Jabang Bayi, Jalan Kesambi, Kota Cirebon, Kamis (27/6/2019).

Nantinya, lanjut Kani, para peziarah ini biasanya akan balik lagi jika keinginannya sudah terpenuhi. Bahkan, ada juga yang melakukan tradisi tawur atau curak dalam Bahasa Cirebon, yakni membagi-bagikan kepada masyarakat di sekitar makam, sebagai bentuk syukur.

Kani sama sekali tidak mematok biaya untuk para peziarah. Meskipun begitu, tidak sedikit peziarah yang menyumbangkan benda-benda, seperti kipas angin, kelambu, hiasan, karpet, lampu, dan lain-lain. Selain benda, ada juga yang menyumbangkan uang.

Menurut Kani, ada yang kerap menghubungkan makam ini dengan kemusyrikan. Karena, para peziarah ini meminta sesuatu kepada makam, bukan kepada Tuhan. Namun Kani mengembalikan semuanya kepada peziarah. Sebab, jika menjadikan Makam Jabang Bayi sebagai media agar keinginannya terkabul, maka hal tersebut haknya peziarah.

“Saya kembalikan semuanya kepada peziarah. Tapi saya inginnya agar para peziarah ini tujuannya memang untuk berziarah saja,” jelasnya.

Selain itu, lanjutnya, dirinya juga agak ketat kepada peziarah. Misalnya membatasi waktu untuk berziarah, yang hanya dibatasi 30 menit hingga satu jam. Jika lebih, maka ada kemungkinan orang tersebut sedang memohon sesuatu atau melakukan ritual.

Kemudian, dia juga tidak mengizinkan siapapun untuk tidur di sekitar makam. Sehingga, jika sudah sore sekitar pukul 5 atau 6, maka dia mulai menutup dan mengunci pintu makam. Kani sendiri pulang ke rumah, dan akan kembali ke makam pada keesokan harinya.

“Ditakutkan akan disalahgunakan Makam Jabang Bayi ini,” pungkasnya.(Jfr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *