Kisah Haru Rojak yang Mudik dengan Menggunakan Bajaj


DEJABAR.ID, CIREBON – Lebaran merupakan momen yang pas untuk berkumpul bersama keluarga di kampung halaman. Karena itu, orang-orang rela menempuh jarak jauh, kemacetan, dan sarana transportasi apapun demi bisa pulang ke kampung halaman, salah satunya adalah dengan menggunakan bajaj.
Bajaj merupakan angkutan umum beroda tiga yang ada di wilayah Jakarta. Kendaraan ini merupakan angkutan umum khas ibukota, yang sudah sangat familiar bagi masyarakat. Meskipun khas Jakarta, namun pemilik dan pengemudinya ada yang perantauan. Karena itu, tidak heran jika ada yang bermudik dengan mengunakan bajaj.
Salah satunya seperti yang dialami oleh Rojak, yang bermudik dari Jakarta menuju Brebes dengan menggunakan bajaj. Dirinya mengaku, sudah tiap tahun bermudik dengan kendaraan roda tiga tersebut. Dengan menggunakan bajaj, dia bisa menempuh perjalanan Jakarta-Brebes selama 10 jam.
“Sudah terbiasa mudik pakai bajaj, karena di sana saya profesi supir bajaj,” jelasnya saat ditemui dejabar.id di jalur Pantura Kota Cirebon, Senin (3/6/2019).
Namun sayangnya, saat ditemui, bajaj yang dikendarainya sedang mogok. Sehingga, dirinya terpaksa menunggu temannya yang seprofesi Supri bajaj, untuk memperbaikinya. Apalagi, temannya dikabarkan sudah tiba lebih dulu di Brebsles.
“Jadi nunggu temen dari Brebes buat jemput ke sini. Kala enggak, ya terpaksa diderek,” tuturnya.
Pengalaman berbeda dirasakan oleh pemudik lainnya yang juga menggunakan bajaj, yakni Marso yang mudik dari Jakarta menuju Tegal. Saat ditemui dejabar.id di Jalur Pantura Kabupaten Cirebon, dirinya tidak mengalami kendala apapun saat mudik menggunakan bajaj. Apalagi, bahan bakar yang digunakan cukup irit.
“Sejak bajaj masih warna merah sampai sekarang warna biru, saya kalau mudik selalu pakai bajaj. Bensinnya murah, cuma Rp120.000 Jakarta-Tegal,” jelasnya.
Marso pun memiliki kisah unik sewaktu mudik menggunakan bajaj. Saat itu, bajaj masih berwarna merah. Dirinya pernah distop oleh polisi di daerah Tegal, karena mudik menggunakan bajaj. Oleh polisi, dirinya disuruh balik lagi ke Jakarta. Namun, Marso membantahnya.
“Saya kan orang sini, masa iya warga sini diusir dari wilayahnya,” kenangnya.(Jfr)